Penyakit demam berdarah merupakan salah satu penyakit yang telah lama ada dan banyak menjangkiti masyarakat Indonesia secara musiman. Upaya pencegahan terhadap penyakit ini harus terus diupayakan untuk memperkecil kemungkinan berulangnya wabah demam berdarah yang bisa merenggut banyak nyawa manusia.
Ada tiga langkah pencegahan yang bisa kita lakukan untuk menghadapi penyakit demam berdarah. Pertama, dengan mencegah berkembangnya nyamuk aedes aegypti. Kedua, mencegah agar tidak tergigit oleh nyamuk aedes aegypti dan ketiga, menjaga daya tahan tubuh atau melakukan langkah-langkah preventif jika mendapati diri memiliki gejala demam berdarah.
-
Mengurangi perkembangan nyamuk demam berdarah
Pada saat peralihan musim, biasanya ke musim hujan, nyamuk demam berdarah akan banyak berkembang. Saat inilah kita harus lebih waspada terhadap keberadaan nyamuk aedes aegypti sehingga tidak tergigit, apalagi sampai terkena demam berdarah.
Menurut Ahli Parasitologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof dr Saleha Sungkar DAP&E MS SpPark, seperti dilansir Kompas.com, kehadiran demam berdarah memang bertepatan dengan musim hujan yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Sebaliknya, nyamuk rumah atau jenis culex sp berkembang pada musim panas.
Dr Tedjo Sasmono, Kepala Unit Penelitian Dengue di Eijkman Institute of Molecular Biology, mengatakan bahwa vektor nyamuk tersebut selalu ada sepanjang tahun. Menurutnya, ketika musim hujan, populasinya akan meningkat. Ini karena genangan air merupakan habitat bagi mereka.
Penyakit demam berdarah disebabkan oleh virus dengue dari nyamuk aedes aegypti yang terakhir telah ditemukan memiliki empat jenis. Keempat jenis virus dengue itu, yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 memiliki karakteristik dan pola penyebaran yang berbeda.
Bagaimana cara mengurangi perkembang-biakan nyamuk aedes aegyti? Pemerintah sendiri telah lama gencar mengkampanyekan PTN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) melalui 3M.
-
Membersihkan tempat penyimpanan air, seperti bak kamar mandi, kolam ikan, pot atau vas bunga. Caranya dengan membersihkan atau menguras bak setidaknya seminggu sekali.
-
Menutup wadah air.
-
Mendaur ulang barang bekas. Tumpukan kaleng bekas atau botol-botol air terbuka yang berpotensi menjadi sarang nyamuk sebaiknya dibuang dengan cara dikubur, atau bisa didaur ulang.
Baca Juga: Tiga Langkah Untuk Mengantisipasi Penyakit Demam Berdarah
Selain 3M, upaya lainnya untuk memberantas sarang nyamuk adalah dengan pengasapan atau fogging. Pengasapan akan lebih efektif dilakukan dua kali dengan selang waktu sekitar seminggu supaya jentik nyamuk bisa mati tuntas. Fogging paling baik dijadwalkan pada sekitar pukul 5.30-7.30 pagi atau 4.30-6.30 malam. Waktu tersebut adalah saat nyamuk demam berdarah sedang aktif keluar dari sarangnya.
Selain fogging, sarang nyamuk bisa dikurangi dengan memangkas tanaman sekitar rumah yang terlalu rimbun. Nyamuk biasanya senang bersarang di tempat yang gelap seperti di pepohonan. Menanam pohon anti nyamuk bisa menjadi salah satu solusi lainnya. Ada beberapa tanaman anti nyamuk yang bisa dipilih yaitu lavender, sereh atau serai, bawang putih, catnip, bunga marigold, basil, kemangi dan lain-lain.
2. Mengusahakan agar tidak tergigit nyamuk aedes aegypti.
Setelah beberapa cara membasmi sarang nyamuk dilakukan, kita masih perlu untuk melakukan pencegahan agar tidak tertular penyakit demam berdarah dengan mengurangi sedikit sekali kemungkinan tergigit nyamuk aedes aegypti. Tidak semua nyamuk Aedes aegypty betina membawa virus dengue. Tubuh memiliki sistem imunitas yang tetap dapat membunuh virus dengue sebelum virus menyebabkan penyakit, sehingga walaupun seseorang tergigit nyamuk yang membawa virus dengue, orang tersebut belum tentu akan terkena penyakit demam berdarah.
Pencegahan dari demam berdarah dengan menghindari gigitan nyamuk adalah cara terbaik. Caranya beragam dan pada umumnya dilakukan di dalam rumah. Berikut beberapa diantaranya:
-
Memasang kelambu saat tidur.
Cara ini merupakan yang paling efektif dan telah dilakukan orang sejak zaman dahulu.
-
Memasang kipas angin atau ac.
Salah satu keuntungan memasang kipas atau ac adalah membuat nyamuk sulit mendeteksi bau tubuh manusia. Nyamuk pembawa virus dengue dapat mendeteksi aroma tubuh saat hendak menggigit kulit. Penggunaan kipas atau AC dipercaya dapat menyebarkan bau alami tubuh di ruangan, sehingga nyamuk akan kebingungan mencari sumber bau yang sesungguhnya.
-
Memakai obat nyamuk.
Obat nyamuk semprot atau oles untuk mencegah gigitan nyamuk demam berdarah bisa diaplikasikan. . Namun, pilihlah obat nyamuk yang bahan-bahan kimianya aman, seperti DEET, picaridin, atau IR3535. Jika ingin menggunakan bahan alami, bisa dengan minyak kayu putih (eukaliptus) atau minyak esensial yang terbuat dari lavender, lemon, peppermint, atau serai.
-
Memakai pakaian tertutup. Saat cuaca tidak panas, gunakan pakaian tertutup di dalam atau luar rumah sehingga tidak sampai tergigit nyamuk.
Mencegah lebih baik daripada mengobati, sebuah pepatah yang sangat bijak berkaitan dengan gigitan nyamuk. Bahkan menghindari gigitan nyamuk juga bisa dilakukan di luar rumah seperti di ruang kantor, sekolah, kendaraan seperti mobil dan bus dan lain-lain.
Baca Juga: Waspadai Gejala DBD pada Remaja
3. Menjaga daya tahan tubuh.
Seseorang menghadapi penyakit demam berdarah sekitar 4–7 hari setelah terinfeksi virus dengue. Gejalanya seperti demam sampai 40°Celcius, sakit kepala, mual. Muntah, nyeri otot, sendi atau tulang, nyeri di belakang mata dan muncul ruam atau bintik merah di kulit. Bagi beberapa orang, gejala DBD yang dialami tergolong ringan sehingga sering kali disalah artikan sebagai gejala flu biasa. Gejala DBD di atas umumnya dapat berlangsung selama 10 hari, lalu sembuh dengan sendirinya.
Pada kasus yang parah, DBD bisa menyebabkan penurunan trombosit secara drastis. Kondisi ini bisa berbahaya dan berpotensi menimbulkan komplikasi perdarahan dan syok (dengue shock syndrome). Tindakan dokter diperlukan jika mengalami gejala berbahaya seperti nyeri perut parah, mimisan, gusi berdarah, mudah timbul memar di kulit, kedinginan atau menggigil, sesak nafas, lemas, muntah terus-menerus, buang air besar atau kecil disertai darah.
Jika gejala bersifat ringan, perawatan yang bisa dilakukan meliputi:
-
Mencegah dehidrasi. Demam tinggi dan muntah bisa membuat tubuh dehidrasi. Pengidap harus minum air bersih, idealnya air mineral dalam kemasan dibandingkan air ledeng. Garam rehidrasi juga dapat membantu menggantikan cairan dan mineral.
-
Obat penghilang rasa sakit, seperti tylenol atau parasetamol. Obat ini dapat membantu menurunkan demam dan mengurangi rasa sakit.
-
Obat anti inflamasi nonsteroid (NSA), seperti aspirin atau ibuprofen, tidak disarankan, karena bisa meningkatkan risiko perdarahan internal.
Demam berdarah yang lebih parah mungkin memerlukan penanganan atau perawatan rumah sakit, seperti suplementasi cairan intravena (IV) atau infus, jika pengidap tidak bisa mengonsumsi cairan melalui mulut, dan transfusi darah untuk pengidap dengan dehidrasi berat.
Upaya lain seperti vaksin juga telah dilakukan sebagai langkah pencegahan. Vaksin demam berdarah telah tersedia di Indonesia sejak 2016, dapat diberikan kepada anak usia di atas 9 tahun dan orang dewasa. Vaksin tidak dapat mencegah gigitan nyamuk, tapi dapat mencegah timbulnya gejala DBD berat. Namun, efektivitas vaksin dengue sejauh ini masih belum pasti dan tidak disarankan diberikan kepada orang yang belum pernah terpapar virus dengue sebelumnya.
Baca Juga: Perbedaan Gejala DBD dengan COVID 19
Menjaga daya tahan tubuh adalah salah satu upaya yang baik dilakukan untuk mencegah atau saat mengalami gejala demam berdarah. Memakan makanan bergizi dan mengandung vitamin C salah satunya. Masyarakat Indonesia mengenal jambu biji merah yang dibuat jus untuk menaikkan trombosit. Menjaga daya tahan tubuh, memakan makanan bergizi, menjaga kebersihan rumah serta lingkungan dan melakukan aktivitas yang bebas dari gigitan nyamuk merupakan upaya pencegahan yang harus terus dilakukan.

