Pengaruh virus COVID 19 yang kini banyak dikaji tidak hanya terhadap kesehatan paru-paru saja. Virus ini membawa dampak buruk termasuk kepada sistem peredaran darah manusia maupun fungsi organ tubuh lainnya. Wabah virus juga menyisakan para penyintas yang mengalami long COVID, salah satunya mengalami lemahnya sistem peredaran darah.
Sistem peredaran darah disebut sebagai sistem kardiovaskular adalah bagian dari kinerja jantung dan jaringan pembuluh darah dalam mengalirkan darah pada tubuh manusia. Tugas utamanya adalah mengedarkan oksigen dan nutrisi ke seluruh sel dan jaringan tubuh. Tiga komponen tubuh yang terlibat yaitu darah, pembuluh darah, dan jantung.
-
Darah
Darah berfungsi membawa oksigen, hormon, nutrisi, hingga antibodi ke seluruh tubuh. Sel darah merah mengirimkan oksigen dari paru-paru ke jaringan dan organ tubuh lainnya. Sementara itu, sel darah putih (WBC) melawan infeksi dan merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sedangkan trombosit membantu darah membeku saat tubuh mengalami luka.
-
Pembuluh darah
Pembuluh darah bertugas membawa darah ke seluruh tubuh. Darah yang kaya oksigen dari jantung menuju seluruh jaringan dan organ tubuh dibawa oleh pembuluh darah arteri. Pembuluh darah vena bertugas membawa darah dari seluruh jaringan dan organ tubuh untuk kembali ke jantung.
Fungsi dan struktur pembuluh darah dapat dipengaruhi oleh berbagai penyakit dan kondisi, seperti peradangan, aterosklerosis (pengendapan lemak di endotel arteri). Pembuluh darah pada penderita hipertensi, terjadi karena penyempitan arteriol menyebabkan peningkatan tekanan darah yang tidak normal.
-
Jantung
Jantung bergerak non stop memompa darah ke seluruh tubuh. Kardiomiopati adalah kelainan otot jantung yang membuat organ ini lebih sulit memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini bisa dipengaruhi banyak hal seperti hipertensi, diabetes, obesitas, penyalahgunaan obat atau konsumsi alkohol.
Gangguan jantung juga bisa dipengaruhi oleh penumpukan protein abnormal (amiloidosis), penyakit yang menyebabkan peradangan dan menyebabkan benjolan sel tumbuh di jantung dan organ lain (sarkoidosis), atau gangguan jaringan ikat.
Baca Juga: Perbedaan Gejala DBD dengan COVID 19
Lima Dampak Buruk
Virus COVID-19 menyerang tubuh manusia melalui saluran pernapasan. Celakanya, serangan virus tidak hanya mempengaruhi sistem pernafasan, tapi juga mempengaruhi kinerja jantung, sistem peredaran darah, otak, ginjal, hati, sistem pencernaan dan sistem tubuh lainnya.
Kasus terpapar COVID-19 parah banyak dialami oleh pasien yang mempunyai masalah atau komorbid jantung. Tidak hanya yang komorbid, bahkan, para atlit olahraga sekalipun akan mengalami komplikasi jantung jika terpapar COVID-19 karena jantungnya biasa bekerja lebih keras saat berolahraga.
Bagaimana virus COVID 19 mempengaruhi sistem peredaran darah manusia? Virus yang masuk ke tubuh seorang pasien berpotensi merusak sel endotel. Sel endotel adalah sel yang melapisi semua pembuluh darah di tubuh kita.
Serangan virus yang dimulai dari rusaknya sel endotel akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah. Kerusakan pada pembuluh darah akan menyebabkan pembekuan darah yang tidak normal. Akibat lainnya, bisa terjadi pembuluh darah 'bocor', sehingga aliran darah ke seluruh tubuh berkurang. Kebocoran ini menyebabkan berbagai gejala salah satunya gangguan jantung.
Mereka yang komorbid jantung berisiko lebih tinggi terkena komplikasi COVID-19. Dampak buruk yang lebih cepat terjadi ini disebabkan rusaknya endotelium (lapisan dalam pembuluh darah).
Namun, patut diingat, dampak buruk virus COVID 19 terhadap sistem peredaran manusia tidak hanya dialami mereka yang komorbid. Bahkan hal ini bisa dialami siapa saja yang tidak memiliki penyakit jantung. Apa saja dampak buruknya?
1. Pembekuan darah
Orang terpapar COVID 19 mendapati kondisinya lebih parah jika mengalami pembekuan darah. Pembekuan darah selain disebabkan oleh serangan virus secara langsung, juga dikarenakan adanya respon imun tubuh yang berlebihan terhadap infeksi.
Pembekuan darah bisa terjadi dimana saja di bagian tubuh. Pembekuan ini terjadi misalnya pada trombosis vena dalam, lepasnya bekuan darah di pembuluh darah di paru-paru (pulmonary embolism), serangan jantung atau stroke.
2 Gangguan irama jantung
Mereka yang terpapar COVID 19 padahal tidak memiliki riwayat penyakit jantung banyak mengalami detak jantung yang menjadi lebih cepat atau tidak teratur. Denyut nadi meningkat sebagai respons terhadap demam atau peradangan karena jantung bekerja lebih keras untuk memompa lebih banyak darah ke seluruh tubuh untuk melawan infeksi.
Kondisi detak jantung yang berdetak lebih cepat atau tidak teratur bahkan bisa terus terjadi setelah infeksi virus terlewati. Inilah salah satu tanda seseorang mengalami ‘ long COVID’. Gejala long COVID atau bisa diartikan ‘gejala sisa yang menetap’ masih terus diteliti sampai kini.
Penyebab long COVID diperkirakan karena serangan langsung dari virus maupun respons imun terhadap virus mempengaruhi sistem saraf otonom. Ini adalah bagian dari sistem saraf yang bekerja secara otomatis untuk mengatur beberapa proses penting di tubuh, seperti tekanan darah, detak jantung dan laju pernapasan
Baca Juga: Gejala Asam Lambung Naik Berhubungan dengan Covid 19?
3. Kerusakan jantung
Peradangan COVID-19 yang parah sampai merusak paru-paru bisa menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen yang mencapai jantung. Hal ini terjadi saat virus dan respons imun tubuh merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. Pembuluh darah yang rusak menyebabkan pembekuan darah sehingga mengurangi pasokan oksigen dan nutrisi ke dan dari jantung. Akibatnya, jantung bekerja lebih keras, maka terjadilah kerusakan pada otot jantung.
Pasien dengan kasus COVID-19 gejala berat dapat mengalami kerusakan otot jantung (seperti yang ditunjukkan oleh tes darah dan Elektrokardiogram) memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.
4. Peradangan otot dan lapisan jantung
Pada sejumlah kasus yang parah, COVID-19 menyebabkan peradangan pada otot jantung (miokarditis) dan lapisan jantung (perikarditis). Selain karena virus COVID 10 sebenarnya miokarditis dan perikarditis juga dapat disebabkan oleh infeksi virus lain.
Kerusakan jantung pada kasus COVID 19 disebabkan oleh sistem kekebalan yang bereaksi berlebihan terhadap infeksi/peradangan. Sebuah penelitian di University of Cambridge telah menyelidiki sitokin yaitu molekul yang digunakan sel-sel dalam sistem kekebalan untuk berkomunikasi satu sama lain. Sitokin diketahui terlibat dalam peradangan dan ditemukan dapat mencegah sel otot jantung bekerja dengan baik.
Pada kasus ringan karena terpapar COVID 19, pasien tidak mengalami gejala apapun pada jantung. Namun jika terjadi gejala parah lainnya seperti mengalami sesak nafas, nyeri dada atau irama jantung yang tidak normal, pertolongan medis sangat diperlukan.
5. Sindrom Takotsubo (sindrom patah hati)
Saat seseorang mengalami hal yang begitu emosional atau stress, jantung bisa memompa darah secara tidak normal. Hal-hal yang mengejutkan dari luar sistem peredaran darah manusia seperti kaget atau stress terjadi ketika ruang pompa kiri jantung tiba-tiba berubah bentuk dan menjadi lebih besar. Akibatnya jantung menjadi lemah sehingga kurang mampu memompa darah ke seluruh tubuh. Inilah makanya disebut sebagai sindrom takotsubo atau sindrom patah hati.
Baca Juga: Protokol Kesehatan Covid-19 : Dari 3M Jadi 5M
Mereka yang biasa berolahraga atau para atlet biasanya memiliki ukuran jantung yang lebih tebal dari rata-rata orang normal. Lantaran terbiasa mengolah fisik, jantung para olahragawan sudah terlatih untuk memompa darah yang kaya oksigen melebihi rata-rata orang normal ke seluruh tubuh. Saat terkena virus, kerja jantung ini menjadi sangat terganggu. Makanya, para olahragawan penyintas COVID 19, harus benar-benar memperhatikan kondisi jantungnya sampai benar-benar normal kembali untuk beraktivitas fisik yang berat.
Demikian lima pengaruh virus COVID 19 bagi sistem peredaran darah manusia. Bagaimana dampak buruk virus sampai bisa terjadi dan bagaimana cara penanganannya masih terus diteliti hingga kini.

