Download Farma Medis App
Home Artikel Hidup Sehat

5 Tips Mengatasi Quarter Life Crisis

Baca informasi kesehatan dengan tampilan yang lebih nyaman, terstruktur, dan mudah dipahami. Untuk kondisi medis pribadi, tetap konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.

5 Tips Mengatasi Quarter Life Crisis Hidup Sehat
Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung. Bila keluhan berlanjut atau memburuk, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Foto : Freepik 

Krisis seperempat abad atau quarter life crisis dapat terjadi ketika seseorang berada dalam  rentang usia 18-30 tahun. Penyebabnya, bisa karena masalah hubungan, cinta, karier, dan pergaulan sosial. Bagaimana cara mengatasinya ? 

Penulis : Sholahudin Achmad

Krisis seperempat abad atau quarter life crisis bisa melanda para fresh graduate, seperti diungkapkan Caroline Beaton dalam Psychology Today. Setelah lulus kuliah, dia menyadari telah memilih jalan yang sebenarnya tidak diinginkannya. 

Awalnya, perempuan dari generasi millenials ini tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa sendirian, meski kenyataannya tidak.  Sebab, dalam sebuah studi yang diterbitkan International Journal of Behavioral Development, ditemukan bahwa 39 persen pria dan 49 persen wanita melaporkan merasa dalam 'krisis' di usia dua puluhan. 

Gejala umum yang mereka rasakan adalah rasa kepalsuan yang mengganggu dan perasaan masih kekanak-kanakan. 

Akibatnya, menurut penulis Emerging Adulthood Jeffrey Arnett, anak muda yang dilanda quarter life crisis berjalan ke banyak arah, banyak berganti pekerjaan, berganti pasangan cinta. Semua itu dalam upaya untuk mencari tahu siapa kita dan bagaimana kita cocok di dunia.

Singkatnya, kata Caroline, “kita tersesat!” 

Baca Juga: Mental Health Awareness, 5 Langkah Yang perlu diperhatikan

Apa itu quarter life of crisis?

Quarter life crisis  adalah suatu periode dalam hidupmu, ketika kamu merasa tidak punya arah kehidupan, khawatir, bingung, dan galau akan masa depan. Pemikiran yang suram, kegalauan atau kekhawatiran,  biasanya berkaitan dengan masalah hubungan, percintaan, karier, dan kehidupan sosial.

Lebih dalam lagi, orang dengan quarter life crisis  bisa jadi malah kerap mempertanyakan eksistensinya sebagai seorang manusia. Sebagian orang bahkan sampai merasa dirinya tidak memiliki tujuan hidup.

Penyebab Quarter Life Crisis

Quarter life crisis diawali ketika seorang anak muda mulai memikirkan masalah “orang dewasa” untuk pertama kali dalam hidupnya. Beberapa persoalan atau kondisi berikut ini seringkali memicu terjadinya quarter life crisis:

  • Pekerjaan atau finansial

  • Karier dan masa depan

  • Kehidupan mandiri untuk pertama kalinya

  • Hubungan romantis yang serius untuk pertama kalinya

  • Putus cinta, setelah menjalani hubungan yang serius sekian lama

  • Melihat teman sebaya sudah mencapai impiannya lebih dulu

  • Membuat keputusan pribadi atau profesional yang akan bertahan dalam jangka waktu yang lama

Ciri-ciri quarter life crisis

Quarter life crisis ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut : 

  • Perasaan bingung mengenai masa depan

  • Perasaan terjebak dalam situasi yang tidak diinginkan

  • Ragu-ragu bahkan kesulitan untuk mengambil keputusan dari beberapa opsi dihadapannya 

  • Tidak memiliki cukup motivasi dalam menjalani aktivitas rutin

  • Sulit menentukan apakah harus menjalani hidup sesuai dengan keinginan diri sendiri atau sesuai dengan tuntutan keluarga dan masyarakat

  • Khawatir akan tertinggal dalam ketidakpastian hidup seorang diri

  • Merasa iri dengan teman sebaya yang sudah lebih dulu mencapai impiannya

5 tips mengatasi quarter life crisis 

Dalam The Psychology of Lost, psikolog Kenneth Hill memberikan lima langkah efektif untuk menemukan jalan hidupmu sendiri dan berhenti dari keterpurukan akibat quarter life crisis.  

  1. Lepaskan arah bawaan (default direction) kamu

Saat kamu merasa tersesat, lepaskan arah default kamu. Jika kamu takut melakukan sesuatu yang berbeda, ingatlah bahwa sangat sedikit orang yang secara naluriah mengetahui apa yang ingin mereka lakukan dengan hidup mereka. Tidak ada kata terlambat untuk mengetahui itu.  

Ilmu neurologi mengungkapkan bahwa otak kita tidak kaku. Tetapi, sebaliknya, otak terus beradaptasi dalam merespon apapun yang kita pelajari dan alami sepanjang hidup.  Otak benar-benar membuat jalur saraf baru setiap hari. Jika alat paling kuat di tubuh kamu ini dapat digunakan dengan jalur baru apa pun yang kamu pilih, belum terlambat untuk mencoba lagi.

  1. Tetap di tempat

Begitu sadar tersesat, kebanyakan orang akan panik. Namun kepanikan hanya memperburuk keadaan. 

Saat merasakan emosi  seperti kesusahan, ketakutan, ketakutan tinggi, maka pikiran cenderung menyebar ke arah yang tidak relevan, membuat seseorang menjadi tidak dapat berkonsentrasi untuk memecahkan masalah yang sederhana sekalipun.

Akibatnya, kehilangan arah membuat orang berada dalam suatu perjalanan yang acak, bergerak sembrono, mengikuti jalan yang paling sedikit kontradiksinya, tanpa tujuan yang jelas. 

Pendekatan terbaik untuk mengembalikan arah atau reorientasi  adalah tetap diam. Setidaknya,  sampai kamu mendapatkan arah baru. Jangan berlari lebih cepat, ketika kamu tersesat. 

  1. Temukan patokan arah (landmark) 

Pendaki yang cerdas menggunakan landmark yang menonjol sebagai basis pendakian. Kemanapun mereka pergi, mereka tetap melihatnya. Tanpa landmark, entah itu peta, gunung, atau jalan setapak yang jelas, tersesat di hutan belantara tidak bisa dihindari. 

Demikian pula jika kamu tidak mendefinisikan apa yang sebenarnya penting bagi dirimu di usia dua puluhan. Kamu akan tersesat dalam kekacauan. 

Jadi begitu kamu berhenti dan terlepas dari arah default kamu, kamu perlu melihat ke atas, mundur dan menilai tonggak yang akan membimbing kamu apakah akan menuju kehidupan yang memuaskan. 

Tanyakan pada dirimu sendiri, tiga pertanyaan ini:

  1. Apa yang saya sukai?

  2. Apa yang saya kuasai?

  3. Apa yang dibutuhkan dunia?

Jika menurut kamu jawaban kamu bertentangan, lihat Langkah Nomor 5 di bawah. Tulis jawaban kamu, tempel di suatu tempat yang terlihat. 

  1. Buat rencana aksi

Buatlah rencana sebelum melakukan suatu langkah pencarian. Tetap tenang dan gunakan landmark  untuk memutuskan arah umum yang kamu inginkan, lalu buatlah peta. 

Rencanakan semua yang ingin kamu lakukan, kapan waktunya secara konkret, dan langkah-langkah metodenya.  Temukan apa yang cocok untuk kamu. 

  1. Berhenti membuat alasan

Kamu hanya bisa merasa mengendalikan tujuan jika kamu mempunyai tanggung jawab. Ibaratnya seorang pejalan kaki yang tersesat, mempertanggungjawabkan hasil pencarian rute adalah masalah hidup dan mati. 

Hindari berbagai alasan umum pada usia dua puluhan, seperti "saya tidak cukup pintar", "waktunya tidak tepat", "saya bernasib buruk", "ini adalah salah bos saya" dan "ekonomi yang buruk".

Self-talk kamu akan menentukan lintasan karier kamu. Orang yang banyak menggunakan alasan, tidak akan berhasil. Seperti misalnya mengatakan “saya akan mengejar karier yang hebat, tetapi saya lebih menghargai hubungan manusia daripada pencapaian". Hal ini merupakan dikotomi palsu. 

Adalah lebih baik untuk memutuskan, “Saya ingin menjadi teman yang baik. Saya ingin menjadi pasangan yang hebat. Saya ingin menjadi orang tua yang hebat, dan saya tidak akan mengorbankan mereka di atas  pencapaian besar."

Ilmu saraf mengungkapkan bahwa apa yang kita katakan pada diri sendiri secara langsung berkontribusi pada hasil yang kita usahakan. 

____________________  

Referensi : 

Psychology Today (2015), Quarter-Life Crises: 5 Steps to Stop Floundering.

Rossi, N. E., & Mebert, C. J. (2011). Does a Quarterlife Crisis Exist? The Journal of Genetic Psychology, 172(2), pp 141−161.

Bradley University. Understanding the Quarter-Life Crisis.

Poswolsky, A. Health (2016), How to Survive a Quarter-Life Crisis and Find Your True Purpose.

Beaton, C. Psychology Today (2017), Why Millennials Need Quarter-Life Crises.

Farma AI
Farma AI
Tanya Obat 24/7
Farma AI
Farma AI 24/7
Asisten Apoteker FarmaMedis
Halo! πŸ‘‹ Saya Farma AI. Ada yang bisa saya bantu terkait informasi obat, dosis, atau keluhan kesehatan Anda?