Alergi susu biasanya dialami oleh bayi, namun juga bisa dialami oleh anak-anak yang usianya lebih tua atau bahkan orang dewasa. Ketika terjadi alergi susu, apa yang semestinya dilakukan ?
Alergi susu merupakan respon yang tidak normal dari sistem kekebalan tubuh manusia terhadap susu dan produk yang mengandung susu. Pada umumnya, melansir Mayo Clinic, alergi susu terjadi pada anak-anak. Biasanya disebabkan oleh susu sapi, namun bisa juga dari susu domba, kambing, kerbau, dan mamalia lainnya.
Reaksi alergi susu akan terjadi segera setelah Anda atau anak Anda mengonsumsi susu. Tanda dan gejala alergi susu mulai dari reaksi yang ringan hingga parah, misalnya bisa sampai terjadi mengi atau gangguan pernafasan, muntah, gatal-gatal, dan masalah pencernaan.
Alergi susu bisa menyebabkan Anafilaksis
Alergi susu juga dapat menyebabkan anafilaksis yang dapat mengancam keselamatan jiwa, mempersempit saluran udara dan dapat menghalangi pernapasan. Anafilaksis adalah keadaan darurat medis yang memerlukan perawatan dengan suntikan epinefrin atau adrenalin (EpiPen, Adrenaclick, lainnya) dan perlu dibawa ke ruang gawat darurat.
Tanda dan gejalanya dapat dimulai segera setelah mengonsumsi susu. Yakni, meliputi gejala:
-
Penyempitan saluran udara, termasuk tenggorokan bengkak yang membuat sulit bernafas
-
Pembilasan wajah
-
Gatal
-
Syok, dengan penurunan tekanan darah yang nyata
Susu merupakan salah satu dari tiga jenis bahan makanan yang paling umum menyebabkan anafilaksis. Dua lainnya adalah kacang tanah dan kacang pohon.
Jika Anda atau anak Anda memiliki reaksi terhadap susu, beri tahu kepada dokter. Meskipun hanya alergi yang ringan reaksinya, namun dengan melakukan tes dapat membantu memastikan alergi susu, sehingga Anda dapat menghindari reaksi yang lebih buruk di masa depan dan berpotensi lebih buruk.
Alergi susu vs intoleransi susu
Alergi susu berbeda dengan intoleransi protein susu dan intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa adalah ketika tubuh Anda tidak dapat mencerna laktosa atau gula yang terdapat di dalam produk susu. Gejalanya adalah seperti sakit perut, gas, dan diare.
Sedangkan alergi susu, gejalanya mempengaruhi lebih dari sekedar saluran pencernaan saja. Alergi susu adalah ketika sistem kekebalan tubuh Anda berpikir bahwa susu adalah penyerbu asing dan menyerangnya dengan melepaskan bahan kimia yang disebut histamin. Gejalanya bisa berkisar dari masalah mengi hingga muntah dan diare.
Jadi, tidak seperti alergi susu, intoleransi tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh. Sehingga intoleransi susu memerlukan perawatan yang berbeda dari alergi susu. Tanda dan gejala umum dari intoleransi protein susu atau intoleransi laktosa meliputi masalah pencernaan, seperti kembung, gas atau diare, setelah mengonsumsi susu atau produk yang mengandung susu.
Gejala alergi susu
Sebagai orang tua, sebaiknya sedini mungkin Anda mengenali gejala atau ciri-ciri alergi susu pada anak.
Reaksi dari gejala alergi susu pada dasarnya berbeda-beda pada masing-masing anak, maupun orang dewasa. Ada yang merasakannya sesaat setelah beberapa menit mengonsumsi, namun ada yang setelah beberapa jam setelahnya baru mengalami reaksi alergi ini.
Namun pada umumnya, tanda dan gejala langsung dari alergi susu, adalah meliputi:
-
gatal-gatal
-
mengi
-
Rasa gatal atau kesemutan di sekitar bibir atau mulut
-
Pembengkakan pada bibir, lidah atau tenggorokan
-
Batuk atau sesak nafas
-
muntah
Selain itu, tanda dan gejala yang mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk berkembang, adalah meliputi:
-
Kotoran encer atau diare, yang mungkin mengandung darah
-
Kram perut
-
Pilek
-
Mata berair
-
Kolik, pada bayi
Diagnosis alergi susu
Biasanya diagnosis alergi susu yang dilakukan oleh dokter diawali dengan tanya jawab seputar gejala, riwayat kesehatan, dan daftar makanan yang dikonsumsi selama beberapa hari terakhir.
Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Beberapa jenis tes alergi dapat disarankan oleh dokter terhadap pasien. Yaitu :
-
Tes darah
Tes darah bertujuan untuk memeriksa kadar antibodi immunoglobulin E (IgE) yang dihasilkan saat tubuh terpapar zat penyebab alergi.
-
Tes kulit
Tes kulit merupakan tes untuk memastikan apakah alergi disebabkan oleh susu atau produk olahannya. Tes kulit dilakukan dengan menusukkan jarum ke kulit dan memasukkan sampel susu atau olahannya ke dalam area tusukan tadi. Jika muncul benjolan merah dan gatal di area tersebut, maka hal ini dapat menjadi tanda adanya alergi susu.
-
Tes Eliminasi makanan
Tes eliminasi makanan dilakukan kepada pasien dengan cara untuk tidak mengonsumsi susu dan produk olahannya selama beberapa minggu. Setelah itu, pasien diminta untuk kembali menjalani pola makan seperti biasa. Tes eliminasi makanan harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.
-
Tes makanan
Dalam tes makanan, dokter akan memberikan minuman atau makanan yang mengandung susu untuk melihat apakah muncul reaksi alergi. Jika muncul reaksi, dokter akan segera memberikan penanganan.
Faktor risiko alergi susu
Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko alergi susu. Menurut Mayo Clinic, faktor risiko yang dapat meningkatkan alergi susu adalah:
-
Alergi lainnya
Banyak anak yang alergi susu juga memiliki alergi lain. Alergi susu dapat berkembang sebelum alergi lainnya.
-
Dermatitis atopik
Anak-anak yang menderita dermatitis atopik atau peradangan kulit kronis yang umum akan lebih mungkin untuk mengembangkan alergi makanan.
-
Riwayat keluarga
Risiko seseorang untuk alergi makanan meningkat jika salah satu atau kedua orang tuanya memiliki alergi makanan atau jenis lain dari alergi atau penyakit alergi, seperti demam, asma, gatal-gatal atau eksim.
-
Usia
Alergi susu lebih sering terjadi pada anak-anak. Seiring bertambahnya usia, sistem pencernaan mereka matang, dan tubuh mereka cenderung tidak bereaksi terhadap susu.
Komplikasi alergi susu
Anak-anak yang menderita alergi susu lebih mungkin bisa mengalami masalah kesehatan tertentu lainnya, termasuk alergi terhadap makanan lain seperti telur, kedelai, kacang tanah, atau bahkan daging sapi.
Alergi serbuk bunga merupakan reaksi umum terhadap bulu hewan peliharaan, tungau debu, serbuk sari rumput, dan zat lainnya.
Pencegahan alergi susu
Sejauh ini tidak ada cara pasti untuk mencegah alergi makanan. Namun demikian, cara mencegah yang pada umumnya dapat dilakukan adalah dengan menghindari makanan yang menjadi penyebabnya. Jika Anda tahu Anda atau anak Anda alergi susu, maka hindari susu dan produk susu.
Membaca label makanan dengan cermat adalah merupakan cara untuk mencegah alergi susu. Bacalah turunan dari susu yang dapat ditemukan di beberapa tempat yang tidak terduga, seperti di beberapa kaleng tuna, sosis, atau produk non dairy.
Bertanyalah sebelum memesan di restoran mengenai bahan-bahan yang dipakai dalam menu makanan yang akan dipesan.
Menghindari susu dan produk susu adalah pengobatan utama untuk alergi susu. Untungnya, kebanyakan anak dapat mengatasi alergi susu. Mereka yang tidak bisa mengatasinya mungkin perlu terus menghindari produk susu.
Produk susu yang harus dihindari adalah mentega dan lemak mentega, keju (termasuk keju cottage dan saus keju, krim (termasuk krim asam, custard, susu (termasuk buttermilk, susu bubuk, dan susu evaporasi), yogurt, es krim, pudding, dan makanan dengan susu di dalamnya.
Selain itu, cek pula makanan yang seringkali mengandung protein susu sapi. Misalnya, saus putih, makanan yang dipanggang seperti roti, kue kering, kerupuk; campuran kue, sereal, permen coklat dan krim, serta masih banyak lagi yang lainnya.

