Kemungkinan dari hasil rapid test antigen atau rapid swab hanya dua, yakni, positif atau negatif. Jika hasil rapid swab antigen positif, apa artinya? Dan apa yang harus segera dilakukan?
Pandemi COVID 19 yang telah berlangsung lebih dari dua tahun membuat kita familiar dengan beberapa jenis tes untuk mendiagnosis virus mematikan ini. Ada rapid antigen (swab test), rapid test antibody, dan PCR atau polymerase chain reaction. Masing-masing tes tersebut memiliki perbedaan dalam metode pengambilan sampel dan waktu untuk mengetahui hasilnya.
Rapid test antigen
Cara cepat untuk mengetahui seseorang terpapar atau tidak virus COVID-19 adalah dengan melakukan pemeriksaan rapid test antigen. Sampel yang diambil dalam rapid test antigen adalah lendir dari dalam hidung atau tenggorokan. Oleh sebab itu rapid test antigen juga disebut dengan istilah rapid swab atau swab antigen.
Sampel tersebut kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa tanda-tanda materi genetic virus di dalam sampel tersebut. Berbeda dengan rapid test antibodi, rapid antigen langsung mendeteksi keberadaan virus COVID-19, bukan antibodi yang dihasilkan tubuh terhadap virus. Jadi, hasil swab antigen akan lebih akurat ketimbang rapid test antibodi.
Rapid test antibodi
Sedangkan bila sampel yang diambil berupa sampel darah, maka pemeriksaan ini disebut dengan rapid test antibodi. Tes ini merupakan proses screening awal, yang berlangsung dalam tempo 5-10 menit, yang dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat antibodi yang terbentuk dalam darah akibat virus COVID-19.
Hasil dari tes cepat yang disebut juga dengan tes serologi ini dari segi akurasi, cenderung tidak akurat hasilnya. Sehingga diperlukan tes lanjutan, seperti antigen atau PCR, untuk memastikan hasilnya.
Tes PCR atau Polymerase Chain Reaction
Tes PCR merupakan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Selain penyakit lain, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19. Yakni mendeteksi material genetik virus korona.
Dalam tes PCR, yang diambil adalah sampel dahak, lendir, atau cairan dari nasofaring atau bagian antara hidung dan tenggorokan, orofaring atau bagian antara mulut dan tenggorokan, atau paru-paru pasien yang diduga terinfeksi virus corona.
Cara mengambil sampel dahak dilakukan dengan metode swab, sekitar 15 detik waktunya, dan tidak menimbulkan rasa sakit. Atau menggunakan PCR kumur. Sampel dahak kemudian dibawa ke laboratorium untuk diteliti.
Bagaimana jika hasil rapid test antigen positif?
Seringkali orang yang mendapatkan hasil rapid test antigen positif merasa ragu apakah dirinya sudah terpapar atau belum dengan virus COVID-19. Sehingga mereka kemudian melakukan tes PCR.
Apakah langkah tersebut sudah tepat untuk saat ini? Penjelasan dari Kemenkes hingga Satgas Covid-19 menyebutkan bahwa tidak perlu PCR lagi bila hasil tes rapid antigen positif. Sebab, menurut Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, seperti dikutip Kompas.com, jika seseorang dites positif atau reaktif menggunakan rapid test antigen, maka dia sudah dihitung sebagai positif Covid-19.
Jawaban senada juga disampaikan oleh Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Nasional, Brigjen TNI Purn dr Alexander K Ginting Sp.P(K). Bahwa jika hasil rapid test reaktif, artinya sudah terinfeksi.
Langsung lakukan isolasi
Ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Tonang Dwi Ardyanto mengatakan hal yang sama, yaitu jika hasil antigennya positif, sama dengan positif Covid-19. Jadi, kalau antigen positif, tidak perlu PCR lagi, langsung dinyatakan konfirmasi dan isolasi. Ketentuan tersebut sudah berlaku sejak Maret 2021.
Bila antigen positif, apa yang harus dilakukan?
Apabila hasil tes antigen positif artinya sudah terkonfirmasi dan dinyatakan menjadi pasien COVID-19. Bagi pasien positif COVID-19. yang tidak menunjukkan gejala atau gejalanya ringan, ia bisa lakukan isolasi mandiri di rumah.
Akan tetapi jika gejala yang dialami sedang hingga berat, maka sebaiknya segera datang ke fasilitas pelayanan kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Antigen positif dan isolasi mandiri di rumah
Berikut ini protokol isolasi mandiri di rumah, setelah hasil rapid test antigen dinyatakan positif, sebagaimana dilansir dari laman P2Ptm.Kemenkes.go.id.
-
Selalu memakai masker dan membuang masker bekas di tempat yang ditentukan
-
Jika sakit (ada gejala demam, flu dan batuk), maka tetap di rumah. Jangan pergi bekerja, sekolah, ke pasar atau ke ruang publik untuk mencegah penularan masyarakat
-
Manfaatkan fasilitas telemedicine atau sosial media kesehatan dan hindari transportasi publik. Beritahu dokter dan perawat tentang keluhan dan gejala, serta riwayat bekerja ke daerah terjangkit atau kontak dengan pasien COVID-19
-
Selama di rumah, bisa bekerja di rumah. Gunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya, dan jaga jarak 1 meter dari anggota keluarga
-
Tentukan pengecekan suhu harian, amati batuk dan sesak nafas. Hindari pemakaian bersama peralatan makan dan mandi dan tempat tidur.
-
Terapkan perilaku hidup sehat dan bersih, serta konsumsi makanan bergizi, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan lakukan etika batuk dan bersin.
-
Jaga kebersihan dan kesehatan rumah dengan cairan desinfektan. Selalu berada di ruang terbuka dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi (±15-30 menit)
-
Hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika sakit berlanjut seperti sesak nafas dan demam tinggi, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Gejala COVID-19 Omicron
Untuk membedakan gejala yang dialami oleh seseorang yang telah dinyatakan terinfeksi virus COVID-19, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam website-nya membagi ke dalam 5 kategori gejala.
-
Pasien tanpa gejala atau asimtomatik
Pasien tanpa gejala atau asimtomatik adalah pasien yang terinfeksi virus COVID-19 namun tidak ditemukan gejala klinis.
-
Pasien yang mengalami gejala ringan
Sementara yang dimaksud gejala ringan adalah pasien dengan gejala tanpa ada bukti pneumonia virus atau tanpa hipoksia, frekuensi napas 12-20 kali per menit dan saturasi oksigen lebih dari 95 persen.
Gejala umum yang muncul seperti:
-
Demam
-
Batuk
-
Kelelahan
-
Kehilangan nafsu makan
-
Napas pendek
-
Nyeri tulang.
Gejala tidak spesifik lainnya seperti:
-
Sakit tenggorokan
-
Kongesti hidung
-
Sakit kepala
-
Diare
-
Mual dan muntah
-
Hilang penciuman (anosmia) atau hilang pengecapan (ageusia).
-
Gejala sedang
Adapun yang dimaksud gejala sedang yakni dengan tanda klinis pneumonia seperti demam, batuk, sesak, napas cepat tanpa tanda pneumonia berat, dengan saturasi oksigen 93 persen.
-
Gejala berat
Gejala berat ditandai dengan tanda klinis pneumonia seperti demam, batuk, sesak, napas cepat, dan ditambah satu dari gejala berikut:
-
Frekuensi napas lebih dari 30 kali per menit
-
Distres pernapasan berat
-
Saturasi oksigen kurang dari 93 persen.
-
Pasien dengan gejala kritis
Pasien dengan gejala kritis adalah pasien dengan gejala gagal nafas, komplikasi infeksi, atau kegagalan multiorgan.
Apakah vaksinasi bisa menyebabkan antigen positif ?
Sempat beredar di media sosial, informasi yang menyebutkan bahwa seorang yang sebelum divaksin melakukan test COVID-19 dengan hasil negatif dan setelah divaksin pasien mengalami panas dingin, diare serta badan gemetar kemudian hari ke-3 pasca vaksin melakukan tes COVID-19 dan hasilnya menjadi positif.
Ternyata hal tersebut hoaks atau tidak benar. Menurut Ahli patologi klinis dari Universitas Sebelas Maret, dr. Tonang Dwi Ardyanto, dalam laman Covid19.go.id, virus non aktif yang ada dalam vaksin tidak akan menyebabkan hasil tes COVID-19 baik Antigen atau RT-PCR menjadi positif. Jika seseorang mendapati hasil tes COVID-19 positif setelah vaksinasi, itu dikarenakan ia telah terpapar virus tanpa ia sadari.

