Gangguan bipolar atau bipolar disorder adalah suatu kondisi gangguan mental yang menyebabkan terjadinya perubahan suasana hati yang ekstem. Perubahan suasana hati ini dapat terjadi dari tinggi ke rendah ataupun sebaliknya. Pada tingkatan gangguan suasana hati ini, kondisi yang tertinggi dikenal dengan sebutan periode mania atau rasa bahagia dan yang situasi terendah disebut dengan periode depresi atau sangat sedih.
Orang yang mengalami gangguan bipolar dapat merasakan perubahan suasana hati secara tiba-tiba dari rasa yang sangat bahagia menjadi sangat sedih. Bahkan kedua suasana hati ini juga dapat dirasakan dalam waktu yang bersamaan, sehingga penderitanya tidak mampu mengatasi suasana hati itu sendiri. Kendati demikian, penderita gangguan bipolar juga dapat mengalami suasana hati yang normal seperti orang pada umumnya. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa depresi dan gangguan bipolar adalah dua hal yang berbeda.
Saat penderita gangguan bipolar merasakan kesedihan, biasanya akan merasa sangat tertekan, kehilangan harapan, bahkan tak ada keinginan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Namun ketiga suasana hatinya sedang diselimuti kebahagiaan maka Ia akan sangat bergairah, penuh semangat, dan terlalu bahagia.
Perubahan suasana hati yang tidak menentu ini dapat memberi beberapa pengaruh dalam kehidupan sehari-hari untuk menjalani aktivitas kegiatan seperti menggangu waktu tidur, menguras energi, berpengaruh pada perilaku, dan memberi dampak pada kemampuan berpikir jernih seseorang.
Hingga saat ini, belum dapat diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang mengalami bipolar disorder. Namun terdapat beberapa faktor yang diyakini dapat menyebabkan seeorang mengalami bipolar, yaitu:
-
Kondisi otak
Otak dapat mengalami berbagai perubahan fisik yang memengaruhi tingkat bahan kimia otak atau neurotransmitter di dalamnya. Bahan kimia tersebit, termasuk noradrenalin, serotonin, dan dopamine, merupakan zat-zat yang dapat memengaruhi suasana hati seseorang. Jika terjadi ketidakseimbangan pada bahan-bahan kimia tersebut maka seseorang dapat mengalami gejala gangguan bipolar.
-
Keturunan atau genetik
Faktor keturunan juga dapat menjadi penyebab gangguan bipolar, biasanya hal ini lebih sering terjadi pada orang yang memiliki keluarga tingkat pertama seperti orangtua atau saudara kandung yang mengalami kondisi serupa.
-
Pengaruh lingkungan sosial
Para peneliti telah mendapatkan hasil bahwa ada kemungkinan bahwa faktor sosial dapat menimbulkan gejala gangguan bipolar. Faktor ini dapat berupa rasa stress akan suatu kejadian atau rasa trauma seperti kematian anggota keluarga terdekat, hubungan buruk dengan orang lain, masalah keuangan, perceraian, dan lainnya.
Baca Juga: Ciri-Ciri Depresi, Jenis dan Cara Pencegahannya
Berdasarkan tingkatan gangguan bipolar, berikut ciri-ciri dari orang yang mengalami bipolar disorder:
-
Ciri-ciri gangguan bipolar mania
Banyak ciri-ciri dari orang yang mengalami gangguan bipolar mania, namun pada umumnya fase ini akan mengalami beberapa ciri seperti merasa terlalu bahagia untuk jangka waktu yang lama, merasakan penurunan kebutuhan untuk tidur, berbicara sangat cepat karena seringkali berpacu dengan apa yang ada di pikirannya, merasa sangat gelisah atau impulsive, menjadi mudah terganggu, rasa percaya diri yang berlebihan, merasa dapat melakukan banyak hal sekaligus, sangat sensitif dan mudah tersinggung, dan ingin melakukan dan terlibat dalam tindakan yang berisiko seperti melakukan aktivitas seks impulsive, berjudi, atau menghambur-hamburkan uang.
-
Ciri-ciri gangguan bipolar depresi
Penderita gangguan bipolar depresi pada umumnya merasakan tujuh tanda utama depresi seperti perasaan sedih atau putus asa dalam jangka waktu yang lama, menarik diri dari lingkungan pertemanan dan keluarga, kehilangan minat pada aktivitas yang disukai atau tak lagi tertarik pada hobi yang biasa disukai, merasakan perubahan nafsu makan yang signifikan, sering merasa lelah atau kekurangan energi, memiliki masalah dengan ingatan, konsentrasi, dan pengambilan keputusan, serta terpikir untuk melakukan tindakan bunuh diri, bahkan dapat merasa keasyikan dengan hal-hal yang menyangkut kematian.
Gangguan bipolar sendiri terbagi menjadi empat jenis, namun kebanyakan penderitanya mengalami dua dari empat jenis gangguan bipolar. Berikut adalah dua jenis gangguan bipolar yang paling umum dirasakan:
-
Gangguan Bipolar I
Gangguan bipolar I dikenal dengan istilah manik depresi. Pada tahapan ini, perilaku dan perubahan suasana seseorang dapat terjadi sangat ekstrem dan meningkat dengan cepat sampai penderitanya berada di luar kendali diri sendiri. Bahkan pada beberapa kasus, penderitanya dapat berakhir di instalasi gawat darurat jika tidak mendapat penanganan yang tepat.
Orang yang mengalami gangguan bipolar I biasanya mengalami periode manik yang ditandai dengan beberapa gejala seperti suasana hati atau perilaku yang tidak biasa, suasana hati tersebut muncul hampir sepanjang hari dan hampir setiap hari selama episode tertentu, serta suasana hati yang bertahan setidaknya selama satu minggu, bahkan dapat menjadi sangat ekstrem sehingga membutuhkan perawatan rumah sakit dengan segera.
-
Gangguan Bipolar II
Gangguan bipolar II merupakan gangguan yang lebih umum dibanding dengan bipolar I. Kondisi ini melibatkan gejala depresi namun memiliki gejala yang lebih ringan, yang disebut sebagai gejala hipomanik. Hipomanik dapat berubah menjadi lebih buruk jika tanpa pengobatan dan orang yang mengalaminya dapat menjadi sanagt manik atau depresi yang sangat berlebihan. Kondisi bipolar II biasanya sulit disadari oleh orang yang mengalami dan justru malah sering bergantung pada teman atau pasangan, atau orang-orang terdekat untuk mendorong penderitanya mendapatkan bantuan.
Baca Juga: Ketahui 11 Cara Menghilangkan Sakit Kepala Tanpa Obat
-
Gangguan Bipolar Langka
Selain kedua gangguan bipolar di atas, ada jenis gangguan bipolar lainnya yang jarang terjadi yakni gangguan siklotimik, yang melibatkan perubahan suasana hati dan pergeran yang mirip dengan gangguan bipolar I dan II, hanya saja perubahan ini seringkali kurang dramatis. Penderita yang mengalami jenis gangguan bipolar siklotimik dapat bersikap normal tanpa obat, meskipun prosesnya akan sulit. Kendati demikian, seiring berjalannya waktu, perubahan suasana hati penderitanya akan dapat berkembang menjadi diagnosis gangguan bipolar I atau II.
Hingga saat ini belum ditemukan metode yang pasti untuk mencegah gangguan bipolar. Namun melakukan penanganan dapat membantu mencegah gangguan bipolar menjadi lebih buruk. Jika seseorang telah didiagnosis memiliki gangguan bipolar, ada beberapa langkah yang dapat membantu mencegah gejala ringan menjadi lebih parah, seperti:
-
Mendeteksi tanda dan gejalanya. Cara ini dapat mencegah periode bipolar menjadi lebih buruk. Seseorang penderita bipolar dapat mengidentifikasi pola periode bipolar yang dialaminya dan apa saja yang dapat memicu hal tersebut terjadi. Selain itu, melibatkan orang-orang terdekat juga dapat membantu untuk mengawasi tanda-tanda kemunculannya.
-
Tidak mengonsumsi alkohol dan obat-obatan yang rekreasional karena dapat memperburuk gejala dan memungkinkan gejala bipolar datang kembali.
-
Konsumsi obat sesuai dosis yang aturan. Jika penderita bipolar sedang menjalani tahap pengobatan, maka konsumsi obat sesuai dosis dan anjuran dokter. Jangan menghentikan, mengurangi, atau menambah dosis yang justru dapat menyebabkan efek penarikan atau gejala yang dapat menjadikan lebih buruk atau kambuh lagi.
Baca Juga: Kenali Gejala Gangguan Fungsi Hati dan Penyebabnya
Lakukan pemeriksaan ke dokter untuk menghindari gejala gangguan bipolar semakin parah. Anda juga dapat melakukan telekonsultasi melalui website atau aplikasi farmamedisk, yang dapat menghubungkan pasien dengan dokter atau mitra penyedia layanan jasa kesehatan

