Download Farma Medis App
Home Artikel Hidup Sehat

Gejala dan Penyebab Depresi Pada Remaja

Baca informasi kesehatan dengan tampilan yang lebih nyaman, terstruktur, dan mudah dipahami. Untuk kondisi medis pribadi, tetap konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Gejala dan Penyebab Depresi Pada Remaja Hidup Sehat
Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung. Bila keluhan berlanjut atau memburuk, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

 

Depresi pada remaja merupakan gangguan mental dan emosional yang secara medis tidak berbeda dengan depresi pada orang dewasa. Penyebab depresi pada remaja tidaklah tunggal, tetapi terdiri dari beberapa faktor. 

Meskipun sama-sama sebagai suatu gangguan mental dan emosional, namun, menurut Healthline, gejala depresi pada remaja dapat memanifestasikan dirinya dengan cara yang berbeda daripada orang dewasa. 

Hal itu mungkin karena remaja menghadapi tantangan sosial dan perkembangan yang berbeda, seperti tekanan teman sebaya, perubahan kadar hormon, dan tubuh yang sedang berkembang.

Apa yang dinamakan depresi pada remaja? 

Depresi pada remaja pada dasarnya dapat dikaitkan dengan tingkat stres, kecemasan, dan yang paling serius adalah bunuh diri. Beberapa aspek kehidupan yang dapat mempengaruhi depresi tersebut adalah kehidupan pribadi. Yaitu, tentang perasaan, pemikiran, atau perilaku seseorang ketika mereka sendirian dan jauh dari orang lain. Selain itu, juga berkaitan dengan kehidupan sekolah, kehidupan kerja, kehidupan sosial, dan k.ehidupan keluarga

Depresi adalah kondisi medis nyata yang dapat mempengaruhi kehidupan seseorang dalam segala hal jika tidak ditangani dengan benar. Di Amerika, menurut National Institute of Mental Health (NIMH), sekitar 3,2 juta orang Amerika berusia antara 12 dan 17 tahun memiliki setidaknya satu episode depresi berat pada tahun 2017. Mereka mewakili 13,3 persen anak berusia 12 hingga 17 tahun di Amerika Serikat.  Dari data tersebut, perempuan hampir tiga kali lebih mungkin mengalami depresi dibandingkan laki-laki. 

Bagaimana orang tua bisa melihat depresi pada remaja?

Para orang tua seringkali tidak mengenali gejala depresi yang dialami oleh anak remaja mereka. Hal itu terkadang dikacaukan oleh perasaan khas masa pubertas dan penyesuaian remaja. Perlu diketahui, bahwa depresi itu lebih dari perasaan bosan atau ketidaktertarikan untuk berada di sekolah. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP) menyebut gejala depresi remaja meliputi sebagai berikut: 

  • tampak sedih, mudah tersinggung, atau menangis

  • perubahan nafsu makan atau berat badan

  • penurunan minat pada aktivitas yang dulu dianggap menyenangkan

  • keluhan kebosanan yang biasa

  • penurunan energi

  • kesulitan berkonsentrasi

  • perasaan bersalah, tidak berharga, atau tidak berdaya

  • alkohol atau penyalahgunaan narkoba

  • perubahan besar dalam kebiasaan tidur

  • berbicara tentang atau berpikir untuk bunuh diri

  • menarik diri dari teman atau kegiatan sepulang sekolah

  • memburuknya prestasi atau kinerja di sekolah

Beberapa gejala di atas mungkin tidak selalu menjadi indikator depresi pada remaja. Misalnya, perubahan nafsu makan. Namun dengan melihat perubahan perilaku pada remaja dapat memungkinkan orang tua untuk membantu mereka di saat mereka membutuhkan teman bicara.

Perilaku melukai diri sendiri

Perilaku melukai diri sendiri seperti memotong atau membakar juga adalah tanda peringatan depresi pada remaja. Perilaku ini mungkin jarang terjadi pada orang dewasa tetapi lebih sering terjadi pada remaja. 

Niat dari perilaku tersebut biasanya tidak untuk mengakhiri hidup seseorang, tetapi hal itu harus ditanggapi dengan sangat serius. Hal ini biasanya berlangsung sementara dan biasanya berakhir saat remaja bisa mengembangkan kontrol impuls yang lebih baik dan mempunyai keterampilan dalam mengatasi masalah.

Apa penyebab depresi remaja?

Secara medis dikatakan bahwa tidak ada penyebab tunggal depresi pada remaja. Berbagai penyebab dapat menyebabkan terjadinya depresi. Berikut adalah berbagai penyebab depresi pada remaja. 

  • Perbedaan pada struktur otak

Dilansir dari Healthline, penelitian menunjukkan bahwa otak remaja secara struktural berbeda dari otak orang dewasa. Remaja dengan depresi juga dapat memiliki perbedaan hormon dan tingkat neurotransmiter yang berbeda. 

Neurotransmitter adalah bahan kimia utama di otak yang memengaruhi cara sel-sel otak berkomunikasi satu sama lain, dan memainkan peran penting dalam mengatur suasana hati dan perilaku.  Berkaitan dengan depresi pada remaja, neurotransmitter yang penting untuk dipahami adalah serotonin, dopamin, dan norepinefrin.

Rendahnya tingkat neurotransmiter ini dapat menyebabkan depresi, menurut penelitian yang tersedia.

  • Trauma masa lalu 

Peristiwa traumatik yang terjadi pada masa awal kehidupan seorang anak dapat meninggalkan kesan abadi. Misalnya, kehilangan orang tua,  pelecehan fisik, emosional, atau seksual. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat memiliki efek jangka panjang pada otak anak dan dapat berkontribusi pada  depresi.

  • Sifat bawaan

Penelitian menunjukkan bahwa depresi memiliki komponen biologis. Hal ini dapat diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya. Anak-anak yang memiliki satu atau lebih kerabat dekat dengan depresi, terutama orang tua, lebih mungkin untuk mengalami depresi. 

  • Pola berpikir negatif yang dipelajari

Remaja yang secara teratur terpapar pemikiran pesimis, terutama dari orang tua mereka, juga dapat mengembangkan depresi. Mereka mungkin kekurangan contoh positif tentang bagaimana mengatasi tantangan.

Apa saja faktor risiko depresi pada remaja?

Terdapat sederet faktor yang dapat meningkatkan risiko remaja untuk mengalami depresi. Misalnya adalah krisis keluarga seperti kematian atau perceraian, orientasi seksual seperti lesbian, gay, biseksual, transgender, dan lainnya. 

Faktor lain yang mempengaruhi adalah mengalami kesulitan menyesuaikan diri secara sosial, tidak memiliki dukungan sosial atau emosional, tinggal di dalam rumah tangga yang penuh kekerasan, diintimidasi, dan menderita penyakit kronis. 

Remaja yang mengalami kesulitan menyesuaikan diri secara sosial atau yang tidak memiliki sistem pendukung memiliki risiko depresi yang sangat tinggi. Begitu juga kaum muda lesbian, gay, biseksual, dan perilaku seksual aneh lainnya.

Bahkan remaja LGBT yang tidak merasa berkonflik dengan seksualitas mereka sendiri berada pada peningkatan risiko depresi. Ini karena faktor eksternal, seperti stigma dari dunia luar atau kurangnya penerimaan keluarga, dapat berdampak negatif pada cara mereka memandang diri sendiri.

Namun, depresi pada remaja sangat dapat diobati setelah diagnosis dibuat.

Bagaimana depresi remaja didiagnosis?

Di Amerika Serikat, pada tahun 2016, Satuan Tugas Layanan Pencegahan Amerika Serikat merekomendasikan agar semua remaja berusia 12 hingga 18 tahun diperiksa  untuk mendeteksi ada tidaknya gangguan depresi mayor atau depresi klinis.

Dua tahun kemudian, pada tahun 2018, American Academy of Pediatrics (AAP) mendukung pengujian depresi universal untuk remaja berusia 12 tahun ke atas. 

Para psikolog atau psikiater melakukan evaluasi psikologis, mengajukan serangkaian pertanyaan kepada remaja tentang suasana hati, perilaku, dan pikiran mereka. Selain itu juga dilakukan evaluasi sejarah keluarga remaja, kinerja sekolah, dan kenyamanan dalam pengaturan teman sebaya.

Mereka juga harus mengalami dua atau lebih episode depresi mayor selama minimal 2 minggu. Episode mereka harus melibatkan setidaknya lima dari gejala berikut:

  • agitasi atau keterbelakangan psikomotor yang diperhatikan oleh orang lain

  • suasana hati yang tertekan hampir sepanjang hari

  • berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi

  • minat yang berkurang pada sebagian besar atau semua aktivitas

  • kelelahan

  • perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan

  • insomnia atau tidur berlebihan

  • pikiran berulang tentang kematian

  • penurunan berat badan atau penambahan berat badan yang signifikan dan tidak disengaja

Selain itu, psikolog atau psikiater akan mengajukan pertanyaan kepada orang tua atau pengasuh tentang perilaku dan suasana hati remaja. Pemeriksaan fisik juga dapat digunakan untuk membantu menyingkirkan penyebab lain dari perasaan mereka. Beberapa kondisi medis juga dapat menyebabkan depresi.

 
Farma AI
Farma AI
Tanya Obat 24/7
Farma AI
Farma AI 24/7
Asisten Apoteker FarmaMedis
Halo! πŸ‘‹ Saya Farma AI. Ada yang bisa saya bantu terkait informasi obat, dosis, atau keluhan kesehatan Anda?