Campak adalah suatu kondisi munculnya ruam kemerahan pada sebagian atau seluruh tubuh yang disebabkan oleh infeksi virus. Campak merupakan penyakit yang banyak dialami di Indonesia, bahkan Indonesia termasuk ke dalam salah satu dari negara-negara dengan kasus campak terbanyak di dunia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, Indonesia masuk dalam peringkat 10 besar negara dengan jumlah kasus campak terbanyak di dunia. Bahkan pada tahun 2018, di beberapa provinsi di Indonesia sempat ditetapkan status Kejadian Luar Biasa atau KLB karena tingkat kasus campak yang sangat tinggi.
Menurut data yang dihimpun oleh WHO, sebelum vaksin campak digaungkan, campak dapat terjadi dua sampai tiga kali dalam setahun dan menyebabkan sebanyak 2,6 juta kematian setiap tahun. WHO juga merilis data bahwa campak dapat menurunkan kematian pada bayi sekitar 73 persen atau sebanyak 23,3 juta jiwa selama tahun 2000 hingga tahun 2018.
Perlu diketahui bersama bahwa setiap orang tidak kebal akan penyakit campak. Baik yang sudah divaksin namun memiliki kekebalan tubuh lemah, apalagi mereka yang tidak divaksin. Meski sudah marak di beberapa negara, namun penyakit ini masih umum terjadi di beberapa negara berkembang terutama di bagian Afrika dan sebagian negara di Asia. Sebagian besar, lebih dari 95 persen kematian akibat campak terjadi di negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dengan fasilitas yang lemah pula.
Penyakit campak dapat menjadi sangat membahayakan terutama bagi bayi yang tidak diberikan vaksin. Dalam situs resmi WHO dijelaskan bahwa bayi yang tidak divaksin campak memiliki resiko yang tinggi menderita penyakit campak dan komplikasi penyakit lainnya, bahkan sampai kematian. Beberapa kondisi bayi yang berisiko terkena penyakit campak antara lain adalah :
-
Bayi berusia dibawah 12 bulan yang tidak diimunisasi
-
Bayi yang belum diberikan vaksin campak
-
Bayi yang hidup di area padat penduduk
-
Bayi yang tidak mendapat ASI Eksklusif
-
Bayi yang harus mengalami perjalanan ke negara dengan tingkat campak tinggi
-
Bayi yang mengalami kekurangan vitamin A
Baca Juga: Mengatasi Campak Dengan Rempah Tradisional Dari Dapur
Penyakit campak atau measles disebabkan oleh virus RNA atau famili paromyxavirus yang tergolong sangat menular. Penularan virus ini pun sangat mudah, yakni melalui udara yang terbawa saat batuk atau bersin dari penderita campak. Virus yang tersebar di udara ini kemudian akan masuk ke saluran pernapasan manusia lainnya. Jika daya tahan tubuh seseorang sedang lemah apalagi belum pernah vaksin campak sebelumnya, maka orang tersebut akan lebih mudah dan memiliki risiko tinggi tertular penyakit campak.
Virus RNA dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama di berbagai jenis benda, beberapa virus yang kuat bahkan dapat bertahan dan tetap aktif di udara hingga dua jam lamanya. Hal ini kemudian dapat menyebabkan penularan, jika benda-benda tersebut disentuh, kemudian terhirup. Selain itu penularan campak juga dapat terjadi jika menggunakan alat makan atau minum yang sama dengan penderita campak. Untuk itulah perlu membatasi diri untuk tidak melakukan kontak langsung dengan penderita campak.
Awal mula virus penyebab campak yang masuk ke tubuh melalui hidung, mulut, atau mata, kemungkinan besar akan masuk ke paru-paru yang kemudian akan menginfeksi sel-sel kekebalan tubuh. sel-sel yang terinfeksi lalu berpindah ke kelenjar getah bening dan menjadi tempat berpindahnya virus ke sel lain. Sel-sel ini kemudian bergerak ke seluruh tubuh untuk melepaskan partikel virus ke dalam darah. Disaat darah mengalir ke seluruh tubuh, sel-sel tersebut kemudian membawa virus ke berbagai organ seperti limpa, sistem saraf pusat, hati, dan termasuk kulit. Pada area kulit, virus campak dapat menyebabkan peradangan pada kapiler hingga akhirnya menimbulkan ciri khas ruam campak.
Namun yang membahayakan adalah karena virus dapat melewati darah serta otak, dan memasuki otak dengan perbandingan 1 dari seribu orang. Kondisi ini kemudian dapat menyebabkan pembengkakan di otak yang mungkin dapat mengancam nyawa penderitanya. Sementara itu infeksi yang terjadi di organ paru-paru dapat menyebabkan seseorang batuk hingga berpotensi menularkan virus ke orang lain.
Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), didapati hasil bahwa penderita campak dapat menularkan virus dari 4 hari sebelum dan sekitar 4 hari setelah ruam muncul. Orang dengan penyakit campak memiliki persentase sebesar 90 persen menularkan orang-orang yang berada di sekitarnya, kecuali lingkungan tersebut memiliki kekebalan tubuh yang tinggi atau sudah melakukan vaksinasi.
-
Gejala Campak
Jika tubuh sudah terpapar virus campak, maka dibutuhkan masa inkubasi antara 9 sampai 14 hari hingga muncul beberapa gejala campak yang dialami. Berikut adalah gejala campak yang paling banyak dirasakan oleh penderitanya :
-
Ruam merata di seluruh tubuh selama 7 hingga 14 hari
-
Batuk kering
-
Merasa sakit dan nyeri
-
Demam tinggi hingga 40 derajat Celcius pada tiga hari pertama
-
Pilek dan bersin-bersin
-
Sakit tenggorokan
-
Mudah lelah
-
Peka terhadap cahaya
-
Kehilangan selera makan
-
Konjungtivitis atau mata merah dan berair
-
Diare dan atau muntah-muntah
-
Koplik spot yaitu bercak putih keabu-abuan dengan titik tengah berwarna merah sebesar butiran pasir pada langit-langit mulut
Baca Juga: Waspadai Virus Penyebab Herpes Kulit
Saat seseorang sudah merasakan beberapa poin di atas selama beberapa waktu namun kondisi tubuh tak kunjung membaik, maka perlu dilakukan pemeriksaan medis terutama jika sudah merasakan beberapa hal seperti berikut ini :
-
Kesulitan bernapas
-
Sulit dibangunkan dari tidur
-
Sering mengigau saat tidur
-
Sakit kepala yang terasa mengganggu
-
Terlihat lunglai, lemah, dan pucat
-
Keluar cairan berwarna kekuningan dari mata
-
Demam tinggi semakin parah
-
Merasakan sakit telinga
Hingga saat ini sebenarnya tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit campak baik untuk bayi maupun orang dewasa. Hal ini dikarenakan campak tidak seperti infeksi bakteri namun campak disebabkan karena terjadinya inveksi virus yang tidak sensitif terhadap antibiotic. Namun ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan menghindari campak untuk menjadi lebih parah, antara lain adalah dengan cara :
-
Istirahat yang cukup
Cara paling mudah dilakukan untuk mengatasi campak adalah dengan memperbanyak waktu istirahat, karena istirahat yang cukup akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga menjadikan seseorang semakin kuat untuk melawan infeksi virus yang tengah berkembangbiak dalam tubuh.
-
Banyak minum air putih
Gejala demam yang dialami penderita campak akan menguras cairan dan elektrolit tubuh sehingga orang dengan penyakit campak perlu banyak mengonsumsi air putih untuk menjaga dan mengganti cairan tubuh yang hilang. Hal ini harus dilakukan apalagi jika mengalami gejala muntah dan diare.
-
Batasi kontak dengan sekitar
Penyakit campak bersifat menular, sehingga orang yang sedang mengalaminya harus mengisolasi diri dari lingkungan sekitar untuk mencegah penyebaran virus penyebab campak. Selain menghindari kontak, begitu pula dengan barang-barang yang digunakan penderita tidak boleh digunakan bersama dengan yang lain.
Baca Juga: Ketahui Penyebab Disentri Sedari Dini
Selain ketiga cara di atas, hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan asupan makanan, dan minum obat pereda nyeri. Lakukan telekonsulasi melalui website atau aplikasi farmamedisk, yang dapat menghubungkan pasien dengan dokter atau mitra penyedia jasa layanan kesehatan, yang telah terlisensi medis di bidangnya masing-masing.

