Foto: Freepik
Pola pikir merupakan lensa atau kerangka pikiran yang mengarahkan seseorang pada sekumpulan asosiasi dan harapan tertentu.
Pola pikir, seperti kepercayaan, memandu perhatian dan motivasi dengan cara yang membentuk fisiologi dan perilaku. Meskipun saling berhubungan tetapi pola pikir berbeda dari neuritik. Neuritik merupakan jalan pintas mental yang digunakan untuk membuat keputusan dibawah ketidakpastian dan memungkinkan seseorang membuat keputusan dengan cepat dan efisien untuk memecahkan masalah.
Hal itu seringkali didasarkan pada fakta dan pola pikir dalam versi yang bias atau disederhanakan dari apa yang benar, alami, atau mungkin. Misalnya: “anak perempuan tidak pandai matematika”, “diabetes diturunkan dalam keluarga, jadi menurunkan berat badan tidak masalah”, “stres akan membunuh saya”, “perawatan ini akan berhasil karena saya berada di tangan yang baik”.
Manusia mengandalkan pola pikir untuk menyederhanakan dan memahami dunia yang sangat kompleks. Namun, sementara pola pikir itu alami dan tidak dapat dihindari, efeknya bukannya tidak penting. Pola pikir yang dipegang seseorang membentuk perasaan dan tindakan mereka, dengan cara yang dapat sangat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan.
Pola pikir juga dibentuk dan dipengaruhi oleh faktor luar seperti budaya, agama, media, jaringan sosial, dan orang yang dipercaya. Oleh karena itu, dokter biasanya memiliki cara yang bisa mempengaruhi pola pikir pasien tentang kesehatan dan penyembuhan menjadi lebih baik atau lebih buruk.
Sangat mungkin bahwa banyak dokter ahli membentuk pola pikir yang efektif pada pasien mereka, apakah mereka menyadarinya atau tidak. Sebagai bagian dari percakapan pasien dan dokter, 2 jenis pola pikir —pola pikir tentang kemanjuran pengobatan dan pola pikir untung berubah— sangat penting dan saling berhubungan.
Anda bisa mengidentifikasi pikiran, apakah itu positif atau negatif
Pola pikir negatif dapat mempengaruhi kesehatan secara luas. Berikut ini adalah beberapa contoh pola pikir negatif yang dapat berdampak buruk pada kesehatan:
-
Pesimisme berlebihan
Memiliki pandangan yang terlalu pesimis tentang diri sendiri, kehidupan, atau masa depan dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan depresi. Pola pikir pesimis yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan emosional dan kesejahteraan mental secara keseluruhan.
-
Merasa tidak berharga
Memiliki pandangan diri yang rendah dan merasa tidak berharga dapat menyebabkan perasaan sedih, putus asa, dan kehilangan motivasi. Hal ini dapat berkontribusi pada penurunan kesehatan mental dan menghambat upaya untuk merawat diri sendiri secara optimal.
-
Self-criticism yang berlebihan
Mengkritik diri sendiri secara terus-menerus dan menganggap diri sebagai orang yang tidak mampu atau tidak berharga dapat merusak harga diri dan percaya diri. Self-criticism yang berlebihan dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan stres.
-
Perbandingan sosial
Membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan dan merasa kurang berarti atau tidak berhasil seperti mereka dapat menghasilkan perasaan tidak puas dan kurangnya rasa berharga. Perbandingan sosial yang terus-menerus dapat merusak citra diri dan menyebabkan tekanan yang tidak perlu.
-
Menyalahkan orang lain
Anda mencoba mengatakan bahwa orang lain yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri Anda, bukan karena diri Anda sendiri. Anda menghindari bertanggung jawab atas pikiran dan perasaan Anda.
-
Memiliki pikiran negatif yang berlebihan
Mengalami pola pikir negatif yang terus-menerus, seperti mengantisipasi yang terburuk, melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang negatif, atau merasakan kekhawatiran yang berlebihan, dapat mengganggu keseimbangan emosional dan meningkatkan tingkat stres.
-
Rasa takut yang berlebihan
Memiliki kecenderungan untuk merasa takut atau khawatir secara berlebihan dapat mengganggu kualitas hidup dan kesejahteraan mental. Rasa takut yang berlebihan dapat menghambat kemampuan seseorang untuk mengambil resiko, menjalani kehidupan yang memenuhi, dan menghadapi tantangan dengan percaya diri.
Pola pikir negatif dapat mempengaruhi kesehatan secara holistik, termasuk kesehatan mental, emosional, dan fisik. Mengembangkan pola pikir yang lebih positif dan mempraktikkan self-care secara konsisten dapat membantu mengurangi dampak buruk pola pikir negatif pada kesehatan. Jika pola pikir negatif terus berlanjut atau mengganggu keseharian Anda, disarankan untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental.
Mengubah pikiran negatif menjadi positif
Jika Anda berfokus pada pemikiran positif, Anda dapat mengubah pikiran negatif menjadi pikiran positif. Prosesnya sederhana, tetapi membutuhkan waktu dan latihan dimana Anda akan menciptakan kebiasaan baru.
Berikut adalah beberapa cara untuk berpikir dan berperilaku lebih positif dan optimis:
-
Optimisme
Memiliki pandangan yang optimis tentang diri sendiri, kehidupan, dan masa depan dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional. Optimisme dapat membantu mengurangi tingkat stres dan kecemasan, serta meningkatkan kepuasan hidup secara keseluruhan.
Jika Anda ingin menjadi lebih optimis dan terlibat dalam pemikiran yang lebih positif, pertama-tama kenali area kehidupan Anda yang biasanya Anda pikirkan secara negatif, apakah itu pekerjaan, perjalanan harian, perubahan hidup, atau hubungan sosial. Anda dapat memulai dari yang kecil dengan berfokus pada satu area untuk dipandang dengan cara yang lebih positif.
-
Percaya diri
Memiliki keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat dapat memberikan energi positif dan motivasi dalam menghadapi tantangan. Pola pikir yang percaya diri dapat meningkatkan performa, kreativitas, dan kemampuan seseorang untuk mengatasi hambatan.
-
Gratitude (bersyukur)
Menghargai hal-hal positif dalam hidup dan berterima kasih atas apa yang dimiliki dapat meningkatkan kesejahteraan emosional. Berlatih rasa syukur dapat mengurangi stres, meningkatkan kualitas tidur, dan memperbaiki hubungan sosial.
-
Mindfulness (kesadaran)
Mempraktikkan kesadaran saat ini dan mengalami momen-momen dengan penuh perhatian dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, dan memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan. Pola pikir yang sadar membantu seseorang menghargai keindahan kehidupan sehari-hari dan mengurangi kekhawatiran tentang masa lalu atau masa depan.
-
Optimis terhadap kesehatan
Memiliki keyakinan bahwa kita memiliki kemampuan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan kita dapat menjadi motivasi untuk mengadopsi gaya hidup sehat. Pola pikir optimis terhadap kesehatan termasuk keyakinan bahwa kita dapat mengatasi tantangan kesehatan, menjaga kebugaran fisik, dan merawat diri sendiri dengan baik.
Pola pikir positif tersebut dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan dan meningkatkan kualitas hidup.
Namun, penting untuk diingat bahwa pola pikir positif tidak dapat menggantikan tindakan nyata dalam menjaga kesehatan.
Menggabungkan pola pikir positif dengan gaya hidup sehat, seperti makan nutrisi yang seimbang, berolahraga secara teratur, tidur yang cukup, dan mengelola stres, adalah kunci untuk mencapai kesehatan yang optimal. Anda bisa mulai dengan rutin berolahraga selama sekitar 30 menit sehari.
Anda juga dapat memecahnya menjadi potongan waktu 5 atau 10 menit di siang hari. Hal ini dapat memengaruhi suasana hati secara positif dan mengurangi stres.
Ikuti diet sehat untuk mengisi pikiran dan tubuh Anda. Tidur yang cukup. Dan pelajari teknik untuk mengelola stres.
-
Self-empowerment (pemberdayaan diri)
Memiliki pola pikir yang memperkuat diri sendiri dapat membantu seseorang mengambil kendali atas kehidupan mereka dan membuat pilihan yang sehat. Pola pikir pemberdayaan diri melibatkan pengenalan akan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki serta berani mengambil langkah-langkah untuk mencapai tujuan dan kebahagiaan.
______________________
Referensi :
Amonoo HL, et al. Is optimism a protective factor for cardiovascular disease? Current Cardiology Reports. 2021; doi:10.1007/s11886-021-01590-4.
Forte AJ, et al. The impact of optimism on cancer-related and postsurgical cancer pain: A systematic review. Journal of Pain and Symptom Management. 2021; doi:10.1016/j.jpainsymman.2021.09.008.
Kim ES, et al. Optimism and cause-specific mortality: A prospective cohort study. American Journal of Epidemiology. 2016; doi:10.1093/aje/kww182.
Olpin M, et al. Stress Management for Life. 5th ed. Cengage Learning; 2020.
Physical Activity Guidelines for Americans. 2nd ed. U.S. Department of Health and Human Services. https://health.gov/paguidelines/second-edition. Accessed Oct. 20, 2021.
Rosenfeld AJ. The neuroscience of happiness and well-being. Child and Adolescent Psychiatric Clinics of North America. 2019;28:137.
Seaward BL. Essentials of Managing Stress. 4th ed. Burlington, Mass.: Jones & Bartlett Learning; 2021.
Seaward BL. Cognitive restructuring: Reframing. Managing Stress: Principles and Strategies for Health and Well-Being. 8th ed. Burlington, Mass.: Jones & Bartlett Learning; 2018.

