Download Farma Medis App
Home Artikel Hidup Sehat

Kelainan Tulang Belakang: Penyebab, Gejala, dan Pencegahan

Baca informasi kesehatan dengan tampilan yang lebih nyaman, terstruktur, dan mudah dipahami. Untuk kondisi medis pribadi, tetap konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Kelainan Tulang Belakang: Penyebab, Gejala, dan Pencegahan Hidup Sehat
Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung. Bila keluhan berlanjut atau memburuk, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Tulang belakang terdiri dari 26 tulang vertebra yang berfugsi untuk melindungi dan menopang sumsum tulang belakang dan saraf. 

Kelainan tulang belakang biasa disebut juga dengan spinal disorder.  Terdapat beberapa kondisi yang mempengaruhi kelengkungan  atau posisi tulang belakang. Yaitu lordosis, kifosis, dan skoliosis.

Kelainan bawaan lahir juga bisa menyebabkan tulang belakang tidak berkembang dengan sempurna. Hal ini bisa terjadi  ketika bayi masih di dalam kandungan. Akibatnya, tulang belakang menjadi bengkok.

Selain itu, cedera saat melakukan aktivitas tertentu juga bisa menyebabkan kelainan tulang belakang. Misalnya  mengalami cedera fraktur yang menyebabkan tulang bergeser atau melengkung. Selain itu, aktivitas berlebihan yang memberi beban berat pada tulang belakang secara terus-menerus bisa menyebabkan gangguan pada tulang tersebut.

Kondisi yang mempengaruhi kelainan tulang belakang

Beberapa kondisi yang mempengaruhi kelainan tulang belakang, adalah sebagai berikut. 

  1. Lordosis

Lordosis merupakan kelainan tulang belakang yang menyebabkan tulang belakang bagian bawah melengkung atau bengkok ke depan. Dalam keadaan normal, tulang belakang memiliki lekukan di bagian bawah. Namun, dalam kondisi lordosis, lekukan ini terlalu berlebihan bentuknya. 

Adapun penyebab lordosis bisa disebabkan oleh karena Spondylolisthesis atau pergeseran pada  salah satu ruas tulang belakang yang condong ke depan dan menutupi tulang di bawahnya. Kondisi ini menjadi penyebab paling umum dari lordosis.

Lordosis juga dapat disebabkan oleh keretakan atau patahnya salah satu ruas tulang belakang bagian bawah akibat osteoporosis. Kelainan ini disertai dengan nyeri punggung belakang, terutama pada area yang retak.

Penyebab lain lordosis adalah obesitas atau kelebihan berat badan ekstrem yang menyebabkan tulang belakang tidak lagi mampu menopang berat tubuh dengan sempurna.

Atau bisa disebabkan oleh discitis atau radang piringan sendi tulang belakang, yang umumnya terjadi akibat infeksi. 

Perawatan: Perawatan lordosis sangat bergantung pada seserius apa lengkungan itu terjadi. Penderita lordosis dapat melakukan terapi fisik dan latihan harian. Periksakan ke dokter di rumah sakit jika tidak terjadi perubahan setelah terapi dilakukan, atau lekukan tetap sama meskipun  kamu telah membungkuk ke depan. 

  1. Kifosis

Kifosis merupakan kondisi dimana tulang belakang bagian atas condong ke belakang dengan lengkungan hingga lebih dari 50 derajat. Penderitanya kelainan tulang belakang yang disebabkan oleh kifosis ini memiliki postur sangat bungkuk dan seakan memiliki punuk di punggungnya.

Kelainan tulang belakang kifosis rentan dialami oleh wanita lanjut usia. 

Kondisi yang menjadi penyebab kifosis adalah faktor penuaan, terutama jika memang sejak muda kamu memiliki postur tubuh yang buruk. 

Kelemahan otot di punggung atas juga dapat menyebabkan kifosis. Selain itu, penyakit Scheuermann  yang terjadi pada anak-anak dan belum diketahui penyebabnya bisa menjadi penyebab kifosis. 

Kifosis juga dapat disebabkan oleh radang sendi atau penyakit degenerasi tulang lainnya. Osteoporosis, atau hilangnya kekuatan tulang karena usia, juga dapat menyebabkan kelainan tulang belakang berbentuk kifosis. 

Demikian juga cedera pada tulang belakang dan skoliosis atau kelengkungan tulang belakang.

Sementara itu, beberapa kondisi yang menjadi penyebab kifosis, meskipun jarang dialami, meliputi infeksi pada tulang belakang, cacat lahir seperti spina bifida, tumor, penyakit pada jaringan ikat, polio, penyakit paget, dan distrofi otot.

Perawatan: Beberapa perawatan bisa dilakukan untuk membantu meringankan gejala kifosis. Yaitu dengan pemberian obat, terapi fisik untuk membantu membangun kekuatan pada otot inti dan punggung, latihan yoga, menurunkan berat badan hingga menjadi ideal, atau pada kasus yang parah bisa dilakukan pembedahan. 

  1. Skoliosis

Penderita kelainan tulang belakang skoliosis akan memiliki bentuk tulang belakang yang tampak bengkok ke samping, seperti membentuk huruf S atau C. Hingga saat ini belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebab utamanya. Menurut para ahli, kondisi tersebut dikaitkan dengan genetik seseorang. 

Beberapa kondisi dikaitkan dengan penyebab skoliosis. Misalnya, kondisi neuromuskular, seperti cerebral palsy atau distrofi otot. Cacat lahir mempengaruhi perkembangan tulang tulang belakang, juga bisa dikaitkan. Demikian pula, cedera atau infeksi tulang belakang.

Pada anak: Skoliosis pada anak perlu diatasi dengan menjalani perawatan khusus menggunakan kawat khusus. Perawatan ini tidak menyembuhkan skoliosis atau membalikkan struktur tulang, tetapi dapat mencegah agar kondisi tidak semakin memburuk. 

Pada skoliosis yang parah disarankan untuk dilakukan pembedahan atau operasi fusi tulang belakang guna mencegahnya berkembangnya penyakit semakin parah.

Jika mengalami nyeri punggung yang terus menerus dan tak kunjung sembuh, dibarengi dengan adanya perubahan bentuk pada tulang belakang, segera periksakan diri di rumah sakit terdekat. Agar dapat cepat mendapatkan diagnosis dokter dan segera dapat ditangani. 

Gejala kelainan tulang belakang

Gejala pada kelainan pada tulang belakang berbeda-beda, tergantung dari jenis dan penyebabnya. 

Pada orang yang mengalami kifosis, gejalanya adalah berupa punggung sering terasa nyeri, atau kaku  pada tulang punggung karena kelengkungannya yang tidak normal. Postur tubuh juga akan berubah menjadi membungkuk.

Sementara pada kelainan tulang belakang karena lordosis, gejalanya seperti memiliki bokong yang menonjol lebih jauh ke belakang dan perut lebih maju ke depan. Saat berbaring terlentang, punggung akan sulit menempel di atas lantai. Gejala lain yang menyertai adalah nyeri, mati rasa, kesemutan, atau kelemahan pada satu atau kedua kaki disertai dengan masalah kandung kemih.

Sedangkan gejala kelaianan tulang belakang karena skoliosis umumnya berupa bahu dan pinggang yang tidak rata, satu tulang belikat tampak lebih menonjol daripada yang lain. Jika lengkungan cukup parah, tulang belakang membentuk huruf S menyebabkan tulang rusuk di satu sisi tubuh terlihat lebih menonjol.

Pada penderita spondilosis, umumnya terjadi gejala tegang pada otot di sekitar tulang punggung. Rasa tidak nyaman itu dapat menyebar hingga ke area bokong dan paha belakang. Gejala tersebut menjadi semakin memburuk ketika melakukan aktivitas atau kegiatan.

Spondilolistesis menimbulkan gejala nyeri punggung disertai kaku dan mati rasa hingga ke bagian kaki. Orang dengan kondisi ini juga bisa mengalami kifosis dan lordosis.

Pencegahan kelainan tulang belakang

Pada umumnya kelainan tulang belakang disebabkan oleh masalah kesehatan tertentu. Namun, beberapa penyebab dan faktor risiko bisa dihindari. 

Salah satu cara menghindarinya adalah dengan selalu menjaga sikap postur tubuh yang baik. Misalnya, membiasakan posisi duduk tegak. Penting untuk menjaga posisi duduk dengan benar. Hindari duduk terlalu membungkuk ke depan, belakang, atau menyamping.

Pencegahan juga dapat dilakukan dengan menghindari aktivitas yang berlebihan, yang membebani tulang belakang. Pahami batas kemampuan kamu, jangan terlampau sering membawa beban berat di punggung.

Selanjutnya biasakan untuk melakukan istirahat di sela-sela setiap aktivitas. Saat berolahraga, jangan lupa untuk melakukan peregangan. 

Stres pada tulang belakang bisa dicegah dengan istirahat dan melakukan gerakan peregangan sederhana. Kesehatan tulang juga bisa dijaga dengan melakukan olahraga secara rutin.

Selain itu, dalam mencegah kelainan tulang belakang perlu dibiasakan pula  menjaga postur tubuh saat duduk, berdiri, berjalan, bahkan menyesuaikan posisi tidur. Selain itu, juga hindari rokok dan minum alkohol, serta pastikan asupan nutrisi tetap tercukupi untuk menyesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan.

 

 
Farma AI
Farma AI
Tanya Obat 24/7
Farma AI
Farma AI 24/7
Asisten Apoteker FarmaMedis
Halo! πŸ‘‹ Saya Farma AI. Ada yang bisa saya bantu terkait informasi obat, dosis, atau keluhan kesehatan Anda?