Foto : Freepik/benzoix
COVID-19 menyerang sistem pernapasan dan umumnya menimbulkan batuk kering, atau batuk yang tidak menghasilkan lendir atau dahak dari saluran udara.
Penulis : Sholahudin Achmad
Batuk kering biasanya membuat tenggorokan terasa kering, gatal, dan sakit. Selain itu, mungkin ada sensasi menggelitik di tenggorokan atau bagian tenggorokan yang terasa kering, hingga bikin susah menelan.
Batuk kering akibat long COVID-19
Batuk kering adalah gejala awal yang umum dari COVID-19. Medical News Today menyebutkan, bahwa 60–70% orang yang mengalami gejala COVID-19 mengalami batuk kering sebagai gejala awal.
Namun demikian, batuk kering tidak selalu merupakan gejala COVID-19. Batuk kering juga bisa disebabkan oleh beberapa kondisi lain, seperti :
-
asma
-
fibrosis paru idiopatik
-
penyakit refluks gastroesofagus
-
infeksi saluran pernapasan atas
-
kanker paru-paru
Batuk kering akibat Long COVID-19 bisa berbentuk batuk kering dan jenis batuk berdahak atau batuk produktif. Pasien yang sembuh dari COVID-19 yang mengalami batuk berkepanjangan, biasanya merasakan gejala batuk sejak awal terinfeksi virus corona. Batuk tersebut bertujuan untuk membantu penyembuhan paru-paru yang meradang.
Pasien COVID-19 yang sembuh dan memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti bronkitis dan asma juga cenderung mengalami batuk berkepanjangan. Bronkitis bisa mengakibatkan saluran udara tersumbat dengan sekresi. Orang yang memiliki asma juga dapat memicu batuk kronis. Sindrom hiperaktivitas bronkial pasca-virus juga dapat terjadi setelah pemulihan Covid-19.
Jadi, saluran udara menjadi sangat sensitif setelah terinfeksi COVID-19 yang menyebabkan reaksi berlebihan terhadap pemicu seperti asap, udara dingin, dan minuman dingin, yang dapat menyebabkan batuk berkepanjangan.
Batuk kering yang disertai gejala lain dapat mengindikasikan COVID-19 sebagai penyebabnya. Gejala terkait ini meliputi:
-
sakit kepala
-
nyeri otot atau sendi
-
sakit tenggorokan
-
hidung meler atau tersumbat
-
diare
-
mual atau muntah
-
sesak napas atau kesulitan bernapas
Gejala lainnya dari COVID -19 adalah hilangnya rasa dan bau, kehilangan nafsu makan, kelelahan yang tidak dapat dijelaskan atau tidak biasa, dan suhu tinggi.
Gejala pasca COVID-19
Penyintas COVID-19 yang terus mengalami gejala setelah pemulihan mungkin mengalami kondisi pasca-COVID. Kondisi tersebut, antara lain adalah:
-
Long COVID
-
Efek multiorgan dari COVID-19
-
Efek perawatan atau rawat inap COVID-19
Bahkan, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), seseorang yang awalnya tidak memiliki gejala COVID-19 yang parah dapat mengembangkan masalah kesehatan jangka panjang.
Batuk long COVID-19
Batuk adalah gejala umum dari long COVID-19, selain kelelahan, pusing, dan nyeri sendi.
Menurut sebuah penelitian di The Lancet Respiratory Medicine, 20-30% orang masih mengalami batuk kering dalam waktu dua sampai tiga bulan setelah sakit COVID-19.
Sebuah studi awal dari Italia menemukan bahwa 16% orang yang sembuh dari COVID-19 dilaporkan masih mengalami batuk selama dua bulan setelah keluar dari rumah sakit.
Studi yang lebih baru, seperti yang ada di The Lancet Respiratory Medicine, juga menemukan bahwa batuk dapat berlanjut selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah pemulihan dari COVID-19.
Sementara itu, beberapa gejala lain yang terkait dengan kondisi pasca-COVID meliputi kelelahan, nyeri saraf dan sendi, kabut otak, atau kebingungan dan masalah memori, masalah pencernaan, dan hilangnya rasa atau bau.
Cara mengatasi batuk kering akibat Long COVID-19
Penyintas COVID-19 bisa mengalami batuk kering selama beberapa waktu setelah dinyatakan sembuh. Batuk adalah cara tubuh melindungi paru-paru dan menyingkirkan hal-hal yang mengiritasinya. Ini adalah fungsi yang normal dan penting.
Namun, batuk yang berlebihan dapat menyebabkan iritasi dan peradangan, serta membuat batuk kering semakin parah.
Berikut ini cara mengatasi batuk kering akibat long COVID-19.
-
Tetap terhidrasi
Usahakan agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik, dengan minum air putih sesering mungkin sepanjang hari
-
Minuman hangat dan madu
Untuk meredakan batuk kering, kamu bisa coba dengan minum minuman hangat, seperti madu dan lemon. Minuman hangat ini dapat melegakan tenggorokan yang kering.
-
Teguk sedikit cairan
Jika kamu mulai merasa batuk, segera ambil minum dan teguk sedikit demi sedikit untuk meredakan batuk kering yang kamu alami.
Selain itu, kamu juga bisa hisap permen pereda tenggorokan yang rasanya manis, ketika batuk mulai menyerang.
Namun, jika tidak ada keduanya, Anda coba telan berulang kali cairan di tenggorokan saat batuk.
-
Ubah posisi tidur, agar memudahkan pernapasan
Kamu juga dapat mengubah posisi saat tidur untuk memudahkan pernapasan saat batuk. Posisi menyamping ke kiri dianjurkan saat tidur.
-
Melatih pernapasan
Cara lainnya yang dapat dilakukan untuk mengatasi batuk kering, adalah dengan melatih pernapasan. Latihlah bernapas dengan dalam, menggunakan pernapasan perut dan hidung.
Tutup mulut dan telan udara ketika akan batuk. Tarik dan hembuskan napas dengan lembut melalui hidung berulang kali sampai keinginan untuk batuk hilang.
Menghindari hal-hal yang menimbulkan batuk
Batuk kering juga bisa terjadi karena dipicu oleh beberapa kebiasaan dan lingkungan yang tidak sehat. Berikut ini, hal-hal yang menimbulkan batuk yang sebaiknya dihindari:
-
merokok
-
suasana berasap
-
penyegar udara
-
lilin beraroma kuat
-
parfum atau deodoran yang kuat
Cara-cara di atas, untuk mengatasi batuk kering akibat long COVID-19, mungkin tidak bisa langsung berhasil menyembuhkan masalah kesehatan ini. Tapi, latihan yang terus menerus akan dapat berhasil mengatasinya.
Cara mengatasi batuk berdahak pasca-Covid-19
Selain batuk kering, pasien yang sembuh dari COVID-19 juga bisa merasakan batuk berdahak.
Kondisi tersebut juga dapat disertai dengan nafas jadi berbunyi atau mengi, sesak nafas ringan, atau dada terasa sakit.
Namun perlu dipahami, bahwa dahak yang muncul saat batuk itu dikeluarkan dari tubuh agar paru-paru dibersihkan dan mencegah pneumonia.
Jika kamu merasa terganggu dengan batuk berdahak akibat long COVID-19, beberapa cara berikut dapat dilakukan untuk meredakannya.
-
Latihan pernapasan dalam. Lakukan dengan cara tarik napas dalam-dalam melalui hidung dan tahan selama tiga hitungan. Lalu buang napas perlahan dari mulut. Ulangi tiga sampai empat kali dan jangan dipaksakan apabila kamu merasa tidak nyaman.
-
Latihan pernapasan rileks. Duduklah dalam posisi tegak dan nyaman. Kemudian ambil napas pelan-pelan selama 20-30 detik, kontrol pernapasan, dan rasakan apakah masih ada sesak. Ulangi sampai tiga kali.
-
Latihan pernapasan cepat. Tarik napas perlahan lewat hidung, lalu hembuskan napas dengan cepat lewat mulut. Ulangi sampai empat kali dan jangan lanjutkan latihan apabila kamu menjadi terengah-engah atau pusing.
-
Upayakan untuk duduk tegak sebanyak mungkin, kecuali ahli fisioterapi menyarankan posisi lainnya.
-
Minum obat batuk yang diresepkan oleh dokter, seperti obat batuk yang mengandung antibiotik atau steroid.
-
Gunakan inhaler agar nafas lebih lega.
-
Minum banyak air putih, atau minum minuman hangat seperti jahe.
-
Hirup uap panas dari baskom agar saluran udara pernapasan lembab.
-
Rutin berolahraga.
_________________
Referensi :
NHS Inform (2022), Long-Term Effects of COVID-19
Medical News Today (2021), Dry cough and COVID-19: What to know
Carfí, A., et al. (2020) Persistent symptoms in patients after acute COVID-19.
Coronavirus (COVID-19) symptoms in children. (2021).
Coronavirus disease 2019 in children — United States, February 12–April 2, 2020. (2020).
COVID-19 in children and teens. (2021).
COVID-19 testing overview. (2021).
How to protect yourself & others. (2021).
Long-term effects of coronavirus (COVID-19). (2021).
Post-COVID conditions. (2021).

