Tingkat kematian penderita diabetes karena virus Covid 19 ternyata meningkat 8,3 kali lipat dibandingkan dengan masyarakat umum penyintas Covid 19 yang tidak mempunyai riwayat penyakit diabetes. Keterangan dari Satgas Covid 19 tersebut menjadi peringatan penting agar kita mengenali apa saja faktor penyebab diabetes.
Diabetes merupakan penyakit kronis yang berlangsung lama atau jangka panjang, ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah (glukosa) hingga di atas nilai normal. Peningkatan kadar gula atau hiperglikemia bisa terjadi jika kadar gula darah melebihi dari 200 mg/dL.
Adapun ukuran kadar gula yang normal di dalam darah manusia, adalah:
-
70–100 mg/dL pada hasil tes gula darah sebelum makan atau setelah puasa selama kurang lebih 8 jam
-
Kurang dari 140 mg/dL untuk hasil tes gula darah sebelum tidur atau 2 jam setelah makan
-
Kurang dari 200 mg/dL untuk hasil tes gula darah sewaktu
Dari ukuran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kadar gula darah manusia akan berubah-ubah. Kadar gula darah sebelum makan berbeda dengan sesudahnya. Demikian pula kadar gula sebelum tidur dan sesudahnya.
Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2
Penyakit diabetes terdiri atas dua jenis, yakni, diabetes tipe 1 dan tipe 2. Apa perbedaannya?
Pada diabetes tipe 1, tubuh tidak dapat memproduksi hormon insulin yang bertugas membantu penyerapan gula dalam darah menjadi energi. Diabetes tipe 1 terjadi karena sistem kekebalan tubuh penderita menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Sehingga dapat meningkatkan kadar glukosa darah dan menimbulkan kerusakan pada organ-organ tubuh. Diabetes tipe 1 dikenal juga dengan diabetes autoimun.
Pada diabetes tipe 2, kadar gula darah yang naik diakibatkan kurang optimalnya produksi atau penyerapan insulin oleh tubuh. Sel-sel tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga insulin yang dihasilkan tidak dapat dipergunakan dengan baik (resistensi sel tubuh terhadap insulin). Sekitar 90-95% persen penderita diabetes di dunia menderita diabetes tipe ini.
Berikut ini adalah faktor penyebab diabetes tipe 1 dan tipe 2.
Penyebab diabetes
Pada dasarnya penyebab diabetes adalah dua faktor ini. Pertama, faktor genetika dan dapat ditingkatkan risikonya oleh faktor lingkungan. Kedua, faktor gaya hidup atau pola hidup yang buruk.
-
Faktor genetika
Pada diabetes tipe 1, gangguan terjadi karena disebabkan sistem kekebalan tubuh yang diserang oleh virus atau bakteri berbahaya lainnya dan menghancurkan sel penghasil insulin. Akibatnya, tubuh kekurangan atau bahkan tidak dapat memproduksi insulin sehingga gula yang seharusnya diubah menjadi energi oleh insulin menyebabkan terjadinya penumpukan gula dalam darah.
Sedangkan pada diabetes tipe 2, tubuh bisa menghasilkan insulin secara normal, tetapi insulin tidak digunakan secara normal. Kondisi ini dikenal juga sebagai resistensi insulin.
Faktor risiko diabetes tipe 1, antara lain:
-
Faktor riwayat keluarga atau keturunan. Artinya bahwa risiko terkena diabetes tipe 1 kemungkinan besar akan terjadi bila ada anggota keluarga yang mengidap penyakit yang sama. Hubungan genetikal tersebut dapat memengaruhi terkenanya penyakir yang sama.
-
Faktor geografi. Penduduk yang bermukim jauh dari wilayah garis khatulistiwa, seperti di Finlandia dan Sardinia, berisiko terkena diabetes tipe 1. Hal ini disebabkan karena kurangnya vitamin D yang bisa didapatkan dari sinar matahari, sehingga akhirnya memicu penyakit autoimun.
-
Faktor usia. Penyakit ini paling banyak terdeteksi pada anak-anak usia 4–7 tahun, kemudian pada anak-anak usia 10–14 tahun.
-
Faktor pemicu lainnya. Diabetes juga bisa disebabkan karena kebiasaan mengonsumsi susu sapi pada usia terlalu dini, kebiasaan minum air yang mengandung natrium nitrat, kebiasaan makan sereal dan gluten sebelum usia 4 bulan atau setelah 7 bulan, memiliki ibu dengan riwayat preeklampsia, serta menderita penyakit kuning saat lahir.
βBaca Juga: 10 Tanaman Untuk Obat Herbal Diabetes
-
Faktor pola hidup
Penyebab berikutnya dari penyakit diabetes adalah gaya hidup atau pola hidup yang buruk.
Faktor risiko diabetes tipe 2, antara lain:
-
Kelebihan berat badan atau obesitas
-
Distribusi lemak perut yang tinggi
-
Jarang bergerak atau berolahraga
-
Adanya riwayat penyakit diabetes tipe 2 dalam keluarga.
-
Pengaruh ras. Ras kulit hitam, hispanik, Native American, dan Asia-Amerika, memiliki angka pengidap lebih tinggi dibandingkan dengan ras kulit putih.
-
Usia di atas 45 tahun dapat menjadi faktor risiko terkena diabetes, walaupun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi sebelum usia 45 tahun.
-
Kondisi prediabetes, yaitu ketika kadar gula darah lebih tinggi dari normal, tapi tidak cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes.
-
Riwayat diabetes saat kehamilan
-
Wanita dengan sindrom ovarium polikistik, yang ditandai dengan menstruasi tidak teratur, pertumbuhan rambut berlebihan, dan obesitas.
Komplikasi Diabetes
Orang yang mengidap penyakit diabetes tipe 1 maupun tipe 2 bila tidak mengontrol kadar gula darahnya maka akan berpeluang untuk mengalami komplikasi. Komplikasi itu berupa kerusakan retina mata, katarak, kerusakan saraf, penyakit stroke, depresi, demensia, gangguan pendengaran, gagal ginjal kronis, jantung koroner, disfungsi seksual, keguguran, atau bayi lahir mati dari ibu yang mengidap diabetes, nyeri dan kaku di area bahu, Luka dan infeksi pada kaki yang sulit sembuh, kerusakan kulit atau gangrene akibat infeksi bakteri dan jamur, termasuk bakteri pemakan daging.
Pemeriksaan atau tes gula darah
Selain mengetahui penyebab diabetes, perlu juga diketahui tentang cara memeriksa kadar gula darah anda. Tes gula darah ini mutlak diperlukan dalam diagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil tes gula darah dapat menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak.
Adapun tes atau pemeriksaan yang diperlukan, terdiri atas:
-
tes gula darah sewaktu
-
tes gula darah puasa
-
tes toleransi glukosa
-
tes HbA1C (glycated haemoglobin test)
Baca Juga: Memilih Cemilan untuk Penderita Diabetes
Tes gula darah sewaktu
Adalah tes yang bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada jam tertentu secara acak, tanpa perlu puasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, maka dapat didiagnosis menderita diabetes.
Tes gula darah puasa
Adalah tes yang bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Sebelumnya pasien diminta untuk berpuasa selama 8 jam. Lalu kemudian menjalani pengambilan sampel darah untuk diukur kadar gula darahnya. Berikut adalah parameternya:
-
kurang dari 100 mg/dL menunjukkan normal
-
100 – 125 mg/dL menunjukkan pasien mengidap pre diabetes
-
126 mg/dL atau lebih, menunjukkan pasien menderita diabetes
Tes toleransi glukosa
Tes toleransi glukosa adalah tes pemeriksaan gula darah dengan meminta pasien untuk berpuasa selama semalam terlebih dahulu. Pasien kemudian akan menjalani pengukuran tes gula darah puasa. Setelah tes tersebut dilakukan, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus. Kemudian sampel gula darah akan diambil kembali setelah 2 jam minum larutan gula. Berikut adalah parameternya:
-
kurang dari 140 mg/dL menunjukkan normal
-
140 – 199 mg/dL menunjukkan pasien mengidap pre diabetes
-
200 mg/dL atau lebih, menunjukkan pasien menderita diabetes
Tes HbA1C (glycated haemoglobin test)
Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2-3 bulan ke belakang. Hasil tes ini akan menunjukkan kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa oksigen dalam darah.
Pada tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih dahulu. Adapun parameternya, sebagai berikut :
-
HbA1C di bawah 5,7% menunjukkan kondisi normal
-
HbA1C diantara 5,7 - 6,4% menunjukkan pasien mengidap pre diabetes
-
HbA1C di atas 6,5 % menunjukkan pasien menderita diabetes
Baca Juga: Referensi Obat Luka Diabetes Resep Dokter
Selain tes HbA1C, juga dapat dilakukan pemeriksaan estimasi glukosa rata-rata (eAG) untuk mengetahui kadar gula darah dengan lebih akurat. Dokter akan memberikan penjelasan kepada pasien berdasarkan hasil tes gula darah itu. Jika pasien yang dicurigai menderita diabetes tipe 1, dokter akan merekomendasikan tes autoantibodi untuk memastikan apakah pasien memiliki antibodi yang merusak jaringan tubuh, termasuk pankreas

