Banyak pengidap HIV pada awalnya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Mengenal gejala HIV AIDS sangat penting terutama bagi mereka yang memiliki perilaku beresiko karena pengobatan harus segera dilakukan sehingga virus tidak berkembang membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.
Gejala Umum Awal
Pada awalnya, gejala HIV begitu ringan dan tidak khas, mirip gejala serangan virus lainnya, misalnya penyakit flu (flu-like syndrome). Lama munculnya gejala bisa berlangsung selama 1-2 minggu. Gejala ringan ini membuat pengidap HIV awalnya tidak percaya kalau dirinya positif HIV. Berikut gejala tersebut:
-
Demam
Salah satu gejala acute retroviral syndrome (ARS) yang pertama kali muncul biasanya berupa demam ringan dengan suhu tubuh di atas 38 derajat Celcius. Gejala awal ini dapat disertai dengan beberapa gejala lain, seperti kelelahan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan sakit tenggorokan.
-
Kelelahan
Sama halnya dengan respons tubuh terhadap infeksi virus pada umumnya, sistem kekebalan tubuh juga akan memberikan respons peradangan terhadap infeksi HIV. Hal ini akan mengakibatkan tubuh mengalami rasa letih dan lesu sebagai gejala awal HIV. Mirip dengan rasa tidak enak badan yang sering dialami menjelang flu.
-
Nyeri pada kelenjar getah bening dan otot
Nyeri pada persendian, otot, dan kelenjar getah bening juga dapat menjadi salah satu gejala awal HIV. Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh dan kemungkinan besar akan mengalami peradangan saat terjadi infeksi. Jika peradangan terjadi di kelenjar getah bening, maka ketiak, pangkal paha, dan leher kemungkinan akan terasa nyeri. Selain itu, sama halnya dengan infeksi virus lainnya, gejala awal HIV dapat meliputi nyeri pada sendi dan otot.
Tahapan Gejala
Bila seseorang memiliki riwayat perilaku beresiko, terutama dalam perilaku seksual, dan mengalami gejala awal, maka tes dini harus segera dilakukan. Tes diperlukan karena tiap penderita bisa saja mengalami gejala yang berbeda. Infeksi HIV yang berkembang sampai menjadi AIDS terbagi menjadi 3 fase, yaitu:
-
Fase infeksi HIV akut
Fase pertama umumnya muncul setelah 1-4 minggu infeksi HIV terjadi. Pada fase awal ini, penderita HIV akan mengalami gejala mirip flu, seperti:
-
Sariawan
-
Sakit kepala
-
Kelelahan
-
Radang tenggorokan
-
Hilang nafsu makan
-
Nyeri otot
-
Ruam
-
Pembengkakan kelenjar getah bening
-
Berkeringat
Gejala dan tanda-tanda HIV/AIDS tersebut dapat muncul karena sistem kekebalan tubuh sedang berupaya melawan virus. Gejala ini bisa bertahan selama 1-2 minggu atau bahkan lebih.
Baca Juga: Jarang Disadari, Inilah Penyebab Utama Penularan HIV/AIDS
-
Fase laten HIV
Pada fase ini, penderita HIV/AIDS tidak menunjukkan tanda dan gejala yang khas, bahkan dapat merasa sehat. Padahal secara diam-diam, virus HIV sedang berkembang biak dan menyerang sel darah putih yang berperan dalam melawan infeksi.
Pada fase ini, tanda-tanda HIV/AIDS memang tidak terlihat, tapi penderita tetap bisa menularkannya pada orang lain. Pada akhir fase kedua, sel darah putih berkurang secara drastis sehingga gejala yang lebih parah pun mulai muncul.
-
Fase AIDS
AIDS merupakan fase terberat dari infeksi HIV. Pada fase ini, tubuh hampir kehilangan kemampuannya untuk melawan penyakit. Hal ini karena jumlah sel darah putih berada jauh di bawah normal.
Tanda-tanda HIV AIDS pada tahap ini antara lain berat badan menurun drastis, sering demam, mudah lelah, diare kronis, dan pembengkakan kelenjar getah bening.
Karena pada fase AIDS sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah, maka penderita HIV/AIDS akan sangat rentan terkena infeksi dan jenis kanker tertentu. Penyakit yang biasanya terjadi pada penderita AIDS antara lain:
-
Infeksi jamur pada mulut dan tenggorokan
-
Pneumonia
-
Toxoplasmosis
-
Meningitis
-
Tuberkulosis (TB)
-
Kanker, seperti limfoma dan sarkoma kaposi
Gejala HIV AIDS Pada Wanita
Berbeda dengan pria, gejala HIV AIDS pada wanita bisa bersifat lebih spesifik, Pada pria, selain gejala di tiga fase yang telah disebutkan sebelumnya, gejala lainnya nampak pada luka pada bagian penis atau anus serta nyeri buang air kecil. Pada wanita, gejala yang dialami lebih banyak.
Sekitar 250.000 wanita usia produktif terinfeksi HIV di Indonesia. Jika tidak segera diobati, HIV pada wanita bisa berakibat fatal karena bisa menular ke pasangan seksualnya, janin dalam kandungan, dan bayi yang disusuinya. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa saja gejala HIV pada wanita agar penyakit ini bisa terdeteksi sejak dini dan segera diobati.
Gejala HIV pada setiap wanita tidak selalu sama, tergantung kondisi tubuh dan tahapan infeksinya.Gejala dan tanda HIV tahap awal biasanya muncul 1–2 bulan setelah terinfeksi. Namun, bisa juga lebih cepat, yaitu 2 minggu.
Pada tahap awal, dikenal dengan istilah window period, banyak wanita yang belum menyadari kalau dirinya terinfeksi. Jika seorang wanita masih berada pada masa window period, maka hasil tes HIV yang dilakukan kemungkinan besar negatif, walau sebetulnya virus HIV sudah berada di dalam darah dan dapat menular.
Pada tahap berikutnya yakni tahap lanjut, gejala HIV pada wanita biasanya baru akan muncul. Gejalanya bisa berlangsung lama, dalam waktu 8–10 tahun setelah virus masuk ke dalam tubuh.
Baca Juga: Waspadai Empat Tahapan HIV Menjadi AIDS
Berikut ini adalah gejala HIV AIDS pada wanita:
1. Infeksi vagina berulang
Infeksi vagina bermacam-macam, yaitu kandidiasis vagina (infeksi jamur pada vagina) serta vaginosis bakterialis (infeksi bakteri pada vagina). Selain itu, infeksi vagina juga bisa disebabkan oleh virus dan parasit.
Infeksi vagina bisa dialami oleh setiap wanita, termasuk wanita yang tidak menderita HIV. Namun, infeksi vagina biasanya lebih sering kambuh dan sulit diobati pada wanita yang terinfeksi HIV. Sering kambuhnya infeksi pada vagina merupakan tanda bahwa sistem kekebalan tubuh mulai melemah.
Infeksi pada vagina dapat menimbulkan beberapa gejala berikut:
-
Keputihan dengan tekstur tebal berwarna putih
-
Gatal dan muncul ruam di vagina
-
Sensasi perih di area vagina
-
Nyeri saat buang air kecil dan berhubungan seks
2. Nyeri di panggul atau perut bagian bawah
Rasa nyeri yang sering muncul di bagian bawah perut atau di panggul bisa jadi salah satu gejala radang panggul akibat adanya infeksi pada rahim, indung telur, atau tuba fallopi. Seperti halnya infeksi jamur vagina, keluhan radang panggul pada wanita penderita HIV biasanya lebih sulit diobati dan lebih sering kambuh.
Selain rasa sakit di bagian bawah perut, gejala radang panggul lain yang perlu diperhatikan adalah keputihan yang berbau tidak sedap, gangguan menstruasi, demam, dan nyeri ketika berhubungan seks atau buang air kecil.
3. Gangguan menstruasi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan menstruasi banyak terjadi pada wanita yang terinfeksi HIV, khususnya ketika infeksi HIV sudah memasuki tahap lanjut.
Gangguan menstruasi yang terjadi bisa berupa siklus haid tidak teratur, darah haid menjadi lebih banyak atau lebih sedikit, dan munculnya keluhan PMS yang lebih berat dari sebelumnya.
Meski demikian, gangguan menstruasi juga banyak terjadi pada wanita yang tidak terinfeksi HIV. Gangguan menstruasi baru patut dicurigai apabila muncul beserta beberapa gejala HIV lainnya.
4. Sering sakit atau terkena infeksi
Virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh dapat membuat penderitanya sering sakit atau rentan infeksi. Ketika terserang infeksi, penderita HIV bisa mengalami beberapa gejala berikut ini:
-
Demam
-
Batuk yang sulit sembuh atau sering kambuh
-
Sakit tenggorokan
-
Lemas
-
Berkeringat di malam hari
-
Diare kronis
-
Sesak nafas
-
Nyeri otot
-
Sariawan di lidah, mulut, atau vagina
-
Pembengkakan kelenjar getah bening
-
Ruam-ruam di kulit
-
Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
Kemunculan gejala-gejala di atas, terlebih jika berlangsung cukup lama atau sangat sering kambuh, kemungkinan menandakan bahwa infeksi HIV sudah berkembang menjadi AIDS.
Baca Juga: Jauhi Penyebab HIV AIDS, Salah Satunya Perilaku Homoseks
Saat daya tahan tubuh melemah, beberapa penyakit infeksi lain, seperti pneumonia, tuberkulosis (TB), toksoplasmosis, dan meningitis (infeksi selaput otak), akan sangat rentan terjadi. Selain itu, orang yang menderita HIV, baik pria maupun wanita, juga akan rentan terkena kanker, seperti limfoma dan sarkoma Kaposi.
Gejala HIV AIDS sangat penting untuk dikenali, terutama bagi mereka yang sejak awal menyadari memiliki perilaku seks beresiko. Berikutnya dukungan keluarga dan lingkungan sangat diperlukan untuk mengefektifkan pengobatan bagi mereka yang terinfeksi

