Download Farma Medis App
Home Artikel Hidup Sehat

Keputihan Berwarna Coklat, Kenapa ?

Baca informasi kesehatan dengan tampilan yang lebih nyaman, terstruktur, dan mudah dipahami. Untuk kondisi medis pribadi, tetap konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Keputihan Berwarna Coklat, Kenapa ? Hidup Sehat
Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung. Bila keluhan berlanjut atau memburuk, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Foto : Freepik

Keputihan berwarna coklat jangan dianggap sepele. Apalagi bila dialami oleh wanita yang tidak di masa kehamilan, atau tidak pada awal atau akhir periode menstruasi. Berikut ini penyebab keputihan berwarna coklat yang perlu diketahui dan diwaspadai. 

Penulis : Sholahudin Achmad

Keputihan merupakan keluhan yang cukup umum dialami oleh para wanita. Ini adalah cara tubuh membantu menjaga vagina tetap bersih dan terlindungi dari infeksi.

Sebagian wanita mengalami keputihan berwarna coklat. Kondisi ini biasanya terjadi pada awal atau akhir periode menstruasi. 

Sedangkan pada wanita hamil, keputihan berwarna coklat dapat terjadi di masa kehamilan. Proses pelekatan sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim dapat menyebabkan keluarnya bercak darah yang dikenal sebagai bercak atau pendarahan implantasi. Warna bercak tersebut mungkin merah, merah muda, atau coklat muda. 

Keputihan tersebut merupakan tanda-tanda awal kehamilan. Keputihan yang tergolong normal ini bisa terjadi sekitar 6–12 hari setelah pembuahan, dan tidak akan menyebabkan keluhan lain serta bisa hilang sendiri.

Keputihan berwarna coklat yang perlu diwaspadai

Namun demikian, keputihan berwarna coklat juga ada yang perlu diwaspadai. Terutama ketika kondisi tersebut disertai dengan bau tidak sedap, jumlahnya banyak, dan terasa gatal atau nyeri.

Berikut ini penyebab keputihan berwarna coklat yang perlu diwaspadai:

  1. Atrofi vagina

Arofi vagina atau vaginitis atrofi  terjadi karena berkurangnya hormon estrogen. Atrofi vagina biasanya dialami oleh wanita yang telah memasuki masa menopause.

Atrofi vagina dapat menyebabkan peradangan atau iritasi pada vagina serta berkurangnya cairan pelumas alami vagina. Wanita yang memiliki kondisi ini bisa memiliki beberapa keluhan, seperti rasa sakit saat melakukan hubungan intim, vagina terasa kering, perih, dan terdapat keputihan berwarna kecoklatan.

  1. Polip rahim

Polip rahim merupakan salah satu penyebab keputihan berwarna coklat. Tidak hanya keputihan, penyakit ini juga bisa menimbulkan gejala-gejala lain, seperti perdarahan vagina setelah berhubungan intim dan perdarahan menstruasi yang lebih banyak dari biasanya.

Jika tidak diobati, polip rahim bisa membuat penderitanya berisiko mengalami infertilitas atau sulit untuk hamil.

  1. Servisitis

Servisitis atau radang leher rahim biasanya disebabkan oleh infeksi menular seksual. Penyakit ini bisa saja tidak bergejala. Jika bergejala, pada umumnya berupa keputihan berwarna coklat atau keputihan yang disertai darah.

Selain itu, servisitis juga mungkin untuk menimbulkan keluhan lain, seperti frekuensi buang air kecil menjadi sering, buang air kecil terasa menyakitkan, anyang-anyangan, serta perdarahan dan nyeri saat berhubungan intim.

Servisitis yang tidak diobati dengan baik lama kelamaan bisa menyebabkan radang panggul. 

  1. Kanker serviks

Pada tahap awal penderita kanker serviks umumnya tidak merasakan gejala. Namun, saat semakin berkembang parah, penderita kanker serviks bisa mengalami gejala, seperti keputihan berwarna coklat, nyeri di bagian bawah perut atau panggul, nyeri saat berhubungan seksual, dan kesulitan buang air kecil.

Kanker serviks juga bisa menyebabkan penurunan berat badan serta flek coklat atau perdarahan vagina di luar periode menstruasi, setelah menopause, atau setelah berhubungan intim.

Kapan harus ke dokter? 

Dalam banyak kasus, keputihan hanya merupakan darah lama yang membutuhkan waktu lebih lama untuk meninggalkan rahim. Hal ini terutama bila terlihat di awal atau akhir periode menstruasi. 

Namun sebaiknya Anda mencatat kapan keputihan berwarna coklat itu terjadi, seperti apa bentuknya, dan gejala lain yang Anda alami sehingga dokter dapat membantu menentukan penyebab yang mendasarinya. Gejala lain ini mungkin termasuk bau, iritasi, nyeri, dan perubahan pada siklus menstruasi Anda. 

Dokter kemungkinan besar akan melakukan pemeriksaan panggul dan mungkin perlu mengeluarkan cairan untuk pengujian.

Temui dokter sesegera mungkin jika Anda melihat perubahan pada keputihan Anda selama kehamilan, mengalami gejala infeksi, atau mengalami pendarahan atau bercak yang tidak teratur setelah menopause.

Pengobatan 

Keputihan berwarna coklat sebaiknya jangan dianggap remeh. Anda perlu memeriksakan diri ke dokter ketika mengalami ini, terutama jika keputihan berwarna coklat sudah terjadi cukup lama atau disertai gejala lain yang mengganggu.

Untuk memastikan penyebab keputihan warna coklat, dokter dapat melakukan pemeriksaan, seperti pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, termasuk kolposkopi, pap smear, tes darah dan urine, serta USG panggul.

Setelah penyebabnya diketahui, dokter baru bisa memberikan pengobatan untuk mengatasi keputihan berwarna coklat dengan tepat.

Berikut ini beberapa pengobatan untuk keputihan berwarna coklat:

  1. Pemberian obat-obatan

Pada waktu mengobati atrofi vagina, dokter bisa memberikan terapi pengganti hormon. Terapi tersebut berupa pemberian tablet minum atau krim vagina yang mengandung estrogen. Selain itu, untuk melembabkan vagina yang kering, dokter bisa menyarankan penggunaan gel atau pelumas vagina berbahan dasar air.

Sementara itu, untuk mengobati keputihan berwarna coklat karena infeksi, misalnya karena servisitis atau penyakit radang panggul, dokter bisa memberikan antibiotik.

  1. Operasi 

Operasi umumnya diperlukan untuk mengatasi keputihan berwarna coklat yang disebabkan oleh polip rahim atau kanker serviks. Operasi ini bisa dilakukan dengan metode laparoskopi yang minim sayatan atau dengan bedah terbuka.

  1. Kemoterapi dan terapi radiasi

Kanker serviks bisa ditangani dengan kedua terapi ini. Pemberian kemoterapi dan terapi radiasi membasmi sel-sel kanker yang tumbuh di serviks dan yang sudah menyebar ke bagian tubuh atau organ lain. Terapi ini bisa dilakukan sebelum atau setelah tindakan operasi.

Tips pencegahan 

Untuk mencegah terjadinya keputihan berwarna coklat yang tidak normal, hal yang penting dilakukan adalah selalu menjaga kebersihan area organ intim dengan benar. 

Beberapa tips untuk merawat kesehatan organ intim yang perlu Anda lakukan adalah sebagai berikut:

  • Bersihkan area vagina dengan sabun lembut, tidak beraroma, dan hindari produk pembersih wanita atau vaginal douche.

  • Disiplin dalam membersihkan daerah intim dari depan ke arah belakang. Hal ini penting untuk mencegah masuknya bakteri penyebab infeksi dari sekitar anus ke vagina.

  • Pilih pakaian dalam yang berbahan katun dan menyerap keringat untuk mencegah kelembaban pada vagina.

  • Hindari perilaku seks berisiko, yakni sering berganti pasangan seksual atau tidak menggunakan kondom ketika berhubungan intim.

  • Lengkapi vaksinasi, termasuk vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks.

Keputihan berwarna coklat yang terjadi sesekali dan bisa sembuh sendiri umumnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan. 

Namun, jangan sepelekan keputihan berwarna coklat yang tak kunjung membaik atau disertai gejala lain, seperti demam, nyeri perut, penurunan berat badan, sering buang air kecil, dan mudah lelah. Segera periksa ke dokter untuk dapat diketahui penyebab dan cara mengatasinya dengan tepat. 

____________________ 

Referensi:

Mayo Clinic (2019), Vaginal Atrophy.

Mayo Clinic (2021),  Vaginal Discharge.

Mayo Clinic (2020), Cervicitis.

Klepchukova, A. Flo Health (2020), Brown Vaginal Discharge: What May It Mean?

Calhoun, S. Healthline (2019), What Are Cervical Polyps?

Ellis, E, M. Healthline (2019), Everything You Need to Know About Vaginal Discharge.

Pietrangelo, A. Healthline (2019), What Causes Brown Spotting After Menopause?

Brennan, D. MedicineNet (2020), Why Am I Getting Brown Discharge Before My Period?

Watson, S. WebMD (2020), Vaginal Discharge: What’s Abnormal?

WebMD (2020), Cervical Cancer.

Lin, et al. (2020), Clinical Characteristics and Pregnancy Outcomes of Infertile Patients with Endometriosis and Endometrial Polyps: A Retrospective Cohort Study. Taiwan Journal of Obstetrics and Gynecology. 59(6), pp. 916−921.

Sheng, K.K. & Lyons, S.D. (2020), To Treat or Not to Treat? An Evidence-based Practice Guide for the Management of Endometrial Polyps. Climacteric. 23(4), pp. 336−342.

Sim, M., Logan, S., & Goh, L. H. (2020). Vaginal Discharge: Evaluation and Management in Primary Care. Singapore Medical Journal, 61(6), pp. 297.

The American College of Obstetricians and Gynecologists (2020), The Use of Hysteroscopy for the Diagnosis and Treatment of Intrauterine Pathology.

The American College of Obstetricians and Gynecologists (2020), Updated Guidelines for Management of Cervical Cancer Screening Abnormalities.

American Pregnancy Association, What is Implantation Bleeding?

National Health Service UK (2021), Vaginal Discharge. 

 
Farma AI
Farma AI
Tanya Obat 24/7
Farma AI
Farma AI 24/7
Asisten Apoteker FarmaMedis
Halo! πŸ‘‹ Saya Farma AI. Ada yang bisa saya bantu terkait informasi obat, dosis, atau keluhan kesehatan Anda?