Foto : Freepik
Penyebaran virus HIV terjadi melalui hubungan seks, berbagi jarum suntik dan peralatan injeksi lainnya dengan seseorang yang terinfeksi HIV. Orang-orang yang rentan tertular virus dianjurkan untuk memakai obat Pre-exposure Prophylaxis ( PrEP ) sesuai dengan resep dokter, untuk menurunkan resiko penularan HIV.
Penulis : Sholahudin Achmad
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sampai dengan tahun 2021, tercatat sebanyak 38,4 miliar orang mengidap HIV di seluruh dunia.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Controls and Prevention (CDC)), untuk mencegah penyebaran HIV, terutama bagi mereka yang rentan dengan penularan virus mematikan ini, dapat dilakukan dengan pemberian obat Pre-exposure prophylaxis (PrEP).
CDC menyatakan apabila PrEP diberikan sesuai resep dokter, maka obat untuk menurunkan resiko penularan HIV ini dapat bekerja secara efektif. PrEP mengurangi risiko tertular HIV dari seks sekitar 99%, mengurangi risiko tertular HIV dari penggunaan narkoba suntikan setidaknya 74%.
Namun perlu diperhatikan bahwa obat untuk menurunkan resiko penularan HIV itu kurang efektif apabila tidak digunakan sesuai resep.
Selain itu, karena obat untuk menurunkan resiko penularan HIV hanya melindungi terhadap HIV, maka penggunaan kondom tetap penting untuk perlindungan terhadap penyakit menular seksual (PMS) atau sexually transmitted diseases (STD).
Baca Juga: Mengenal Terapi Antiretroviral Bagi Penyakit HIV AIDS
PrEP butuh kepatuhan dari pengguna obat
Lebih lanjut dikatakan oleh CDC, bahwa penggunaan obat untuk menurunkan resiko penularan HIV ini membutuhkan tingkat kepatuhan yang tinggi, agar obat ini bekerja secara efektif.
Diketahui bahwa individu dan kelompok rentan HIV, seperti pria muda yang berhubungan seks dengan pria, cenderung tidak mematuhi pengobatan sehari-hari. Selain itu, faktor interpersonal lainnya, seperti gangguan penggunaan narkoba, depresi, kemiskinan dan upaya untuk menyembunyikan pengobatan juga dapat mempengaruhi kepatuhan tersebut.
Apretude: suntikan dua bulan sekali
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (U.S FDA) sejak Desember tahun lalu telah menyetujui Apretude sebagai obat suntik pre-exposure prophylaxis untuk menurunkan resiko penularan HIV.
Cara menggunakan Apretude adalah dengan cara disuntik. Suntikan pertama terdiri dari dua suntikan inisiasi, yang diberikan dalam jarak satu bulan. Sesudah itu, suntikan berikutnya diberikan kembali setiap dua bulan sekali.
Pasien dapat memulai pengobatan mereka dengan Apretude atau menggunakan cabotegravir oral (Vocabria) selama empat minggu untuk menilai seberapa baik mereka mentoleransi obat tersebut.
Berat badan minimal
Obat untuk menurunkan resiko penularan HIV itu diberikan kepada orang dewasa dan remaja yang berisiko tertular HIV. Berat badan penerima suntikan obat ini adalah minimal 35 kilogram.
Di Amerika Serikat, obat pre-exposure prophylaxis ini bermanfaat sangat penting untuk mengatasi epidemi HIV, termasuk membantu individu yang berisiko tinggi dan kelompok tertentu yang rentan tertular HIV.
Efektivitas obat Apretude vs Truvada sebagai PrEP
FDA mengungkapkan, bahwa keamanan dan kemanjuran Apretude untuk mengurangi risiko tertular HIV sudah dievaluasi dalam dua uji coba acak tersamar ganda, dengan cara membandingkan Apretude dengan Truvada.
Truvada yang mendapatkan rekomendasi lebih dulu, adalah obat oral yang dipakai sekali sehari, yang juga digunakan sebagai obat pre-exposure prophylaxis untuk menurunkan resiko penularan HIV.
Percobaan 1 : laki-laki yang tidak terinfeksi HIV dan perempuan transgender yang berhubungan seks dengan laki-laki dan memiliki perilaku berisiko tinggi untuk infeksi HIV.
Percobaan 2 : termasuk wanita cisgender yang tidak terinfeksi yang berisiko tertular HIV.
Cisgender adalah orang yang mengidentifikasi gendernya sesuai dengan alat kelamin yang ia bawa sejak lahir. Namun orientasi seksualnya bisa heteroseksual, homoseksual, maupun biseksual.
Metode percobaan 1 dan 2
Peserta yang menggunakan Apretude memulai percobaan dengan cabotegravir (oral, tablet 30 mg) dan plasebo setiap hari hingga lima minggu, diikuti dengan injeksi Apretude 600mg pada bulan pertama dan kedua, kemudian setiap dua bulan setelahnya dan tablet plasebo setiap hari.
Peserta yang menggunakan Truvada memulai uji coba dengan mengonsumsi Truvada dan plasebo oral setiap hari hingga lima minggu, diikuti dengan Truvada oral setiap hari dan injeksi intramuskular plasebo pada bulan pertama dan kedua dan setiap dua bulan setelahnya.
Hasil uji coba 1 dan 2
Dalam Pengujian, sebanyak 1, 4.566 pria cisgender dan wanita transgender yang berhubungan seks dengan pria menerima Apretude atau Truvada. Uji coba mengukur tingkat infeksi HIV di antara peserta uji coba yang menggunakan cabotegravir setiap hari diikuti dengan suntikan Apretude setiap dua bulan dibandingkan dengan Truvada oral setiap hari.
Uji coba tersebut menunjukkan peserta yang memakai Apretude memiliki risiko 69% lebih kecil untuk terinfeksi HIV jika dibandingkan dengan peserta yang memakai Truvada.
Dalam Percobaan 2, sebanyak 3.224 wanita cisgender menerima Apretude atau Truvada. Uji coba mengukur tingkat infeksi HIV pada peserta yang menggunakan cabotegravir oral dan suntikan Apretude dibandingkan dengan mereka yang menggunakan Truvada secara oral.
Uji coba menunjukkan peserta yang memakai Apretude memiliki risiko terinfeksi HIV 90% lebih rendah bila dibandingkan dengan peserta yang memakai Truvada.
Efek samping obat Apretude vs Truvada
Efek samping yang terjadi lebih sering pada peserta yang menerima Apretude dibandingkan dengan peserta yang menerima Truvada di kedua percobaan termasuk reaksi di tempat suntikan, sakit kepala, demam (demam), kelelahan, sakit punggung, mialgia dan ruam.
Apretude hanya boleh diresepkan untuk orang yang dipastikan HIV-negatif.
Varian HIV yang resisten terhadap obat telah diidentifikasi pada orang dengan HIV yang tidak terdiagnosis ketika mereka menggunakan Apretude untuk obat PrEP. Individu yang terinfeksi HIV saat menerima Apretude harus beralih ke rejimen pengobatan HIV yang lengkap.
Label pada obat Apretude juga mencakup peringatan dan tindakan pencegahan mengenai reaksi hipersensitivitas, hepatotoksisitas (kerusakan hati) dan gangguan depresi.
Siapa saja yang perlu obat PrEP ?
Obat pre-exposure prophylaxis untuk menurunkan resiko penularan HIV diperlukan oleh orang-orang yang terkonfirmasi negatif HIV, dengan kondisi sebagai berikut:
Pria gay atau biseksual : yang memiliki partner dengan HIV positif. Atau Partner nya memiliki partner yang punya banyak partner, atau memiliki partner yang status HIV-nya belum diketahui. Selain itu juga berlaku untuk mereka yang melakukan seks anal tanpa kondom atau baru saja terinfeksi penyakit menular seksual.
Baca Juga: Jauhi Penyebab HIV AIDS, Salah Satunya Perilaku Homoseks
Heteroseksual : yang memiliki partner dengan HIV positif. Atau memiliki beberapa partner, memiliki pasangan yang punya banyak partner, dan punya partner yang status HIV-nya tidak jelas.
Ini juga berlaku jika mereka tidak selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks dengan seseorang pengguna narkoba dengan jarum suntik, dan dengan pria biseksual yang tidak selalu menggunakan kondom.
Pengguna narkoba suntik : yang berbagi jarum suntik untuk menyuntikkan narkoba, dan berisiko tinggi mendapatkan HIV lewat hubungan seks.
_______________________________
Referensi :
Kompas.com (2022), Mengenal Obat untuk Menurunkan Risiko Penularan HIV.
Centers for Disease Control and Prevention (2022), HIV.
U.S Food and Drug Administration (2021), FDA News Release: FDA Approves First Injectable Treatment for HIV Pre-Exposure Prevention.
Mayo Clinic (diakses pada 2022), HIV/AIDS.
Verywell Health (diakses pada 2022), What Does It Mean to be Cisgender.
Web MD (diakses pada 2022), Cisgender Overview.

