Foto : Freepik
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers 21 Oktober lalu mengatakan, pihaknya menemukan adanya zat kimia berbahaya berupa etilen glikol, dietilen glikol dan etilen glikol butyl ether (EGBE) pada tubuh tujuh anak dari 11 pasien anak yang mengalami gangguan ginjal akut di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Penulis : Sholahudin Achmad
Pernyataan yang disampaikan Menkes tersebut menyusul kejadian kasus gagal ginjal akut pada anak-anak yang jumlahnya kian melonjak. Berawal pada pertengahan tahun 2022, tercatat 1-2 kasus kematian akibat gagal ginjal akut. Kemudian pada bulan Agustus 2022 meningkat drastis menjadi 36 kasus.
Hingga 7 November 2022, tercatat 195 kasus kematian dari total 324 kasus gagal ginjal akut pada anak. Hingga kini 27 anak sedang mengalami perawatan, dan 102 anak dinyatakan sembuh.
Baca Juga: Gangguan Ginjal: Penyebab, Pengobatan dan Pencegahan
Apa itu etilen glikol ?
Etilen glikol atau ethylene glycol adalah senyawa alkohol yang termasuk dalam kelompok alkohol polivalen karena hidroksinya. Senyawa etilen glikol dan dietilen glikol biasanya digunakan untuk kepentingan non-oral. Kedua senyawa alkohol tersebut tidak digunakan untuk kepentingan farmasi,
Hal itu disampaikan oleh pakar kimia farmasi dari Universitas Indonesia Prof. Dr. apt. Yahdiana Harahap, M.Si. dikutip dalam Kompas.com pada 22 Oktober 2022 lalu.
Senyawa kimia etilen glikol dan dietilen glikol adalah bahan kimia yang semestinya tidak ada dalam campuran obat. Sebab, jika dikonsumsi secara oral dapat menimbulkan efek bahaya bagi tubuh.
Sebagai suatu alkohol toksik, etilen glikol dapat menyebabkan gejala keracunan yang mirip dengan methanol dan ethanol. Konsumsi etilen glikol dapat menyebabkan gagal ginjal akut akibat metabolit toksiknya.
Etilen glikol biasanya ditemukan dalam bahan antibeku, pelarut (solvents), dan produk pembersih.
Namun, etilen glikol diduga mengkontaminasi beberapa obat sirup. Obat sirup memiliki rasa yang manis, sehingga penelanan (ingestion) yang tidak disengaja, terutama oleh anak-anak, dapat terjadi dalam jumlah signifikan karena rasa obat tidak buruk.
Penelanan yang tidak disengaja juga dapat terjadi ketika bahan kimia ini disimpan secara tidak benar dalam botol soda.
Efek penggunaan etilen glikol
Dietilen glikol dan etilen glikol merupakan senyawa beracun yang tidak boleh digunakan sebagai pelarut obat-obatan cair. Efek toksik yang dapat ditimbulkan dari dua bahan kimia tersebut antara lain berupa:
-
nyeri perut
-
muntah
-
diare
-
ketidakmampuan untuk buang air kecil
-
sakit kepala
-
penurunan kesadaran
-
hingga gagal ginjal akut yang dapat menyebabkan kematian.
Namun kenyataannya, dietilen glikol dan etilen glikol seringkali digunakan secara ilegal untuk mengganti pelarut yang tidak beracun seperti gliserin atau propilen glikol. Ini karena harganya yang lebih murah sehingga menyebabkan kontaminasi pada obat sirup.
Manifestasi klinis keracunan etilen glikol
Etilen glikol dapat menyebabkan efek depresi sistem saraf pusat, yang mirip dengan ethanol. Namun, metabolit etilen glikol berupa asam glikolat dan kalsium oksalat dapat merusak beberapa organ, terutama ginjal.
Asam glikolat menyebabkan asidosis metabolik dan nefrotoksisitas, sementara kalsium oksalat yang terdeposit di berbagai jaringan (seperti otot, miokard, dan tubulus ginjal) menyebabkan gagal ginjal akut.
Gagal ginjal akut mungkin bermanifestasi sebagai mual, muntah, penurunan output urine, dan warna urine gelap.
Manifestasi klinis umumnya timbul secara cepat, dengan puncak konsentrasi tercapai dalam waktu 1–2 jam setelah penelanan etilen glikol.
Dalam 1–2 jam: manifestasi klinis mirip dengan keracunan etanol, yakni berupa nystagmus, euforia awal yang diikuti dengan drowsiness, mual, dan muntah
Dalam 4–12 jam: dyspnea, takipnea, takikardi, hipertensi, penurunan kesadaran, syok progresif, koma, kejang, dan kematian. Flank pain dan oliguria menandakan gagal ginjal akut
Dalam 5–20 hari setelahnya: palsy saraf kranialis II, V, VII, VIII, IX, X, dan XII
Baca Juga: Diet Rendah Kalium Untuk Gagal Ginjal
Kaitan etilen glikol dengan kasus gagal ginjal akut
Kasus gagal ginjal akut pada mulanya muncul di Gambia Afrika Barat. Pada awal September 2002, otoritas kesehatan setempat melakukan penyelidikan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kematian anak akibat gagal ginjal akut dan konsumsi sirup parasetamol yang digunakan untuk demam, batuk, pilek, dan nyeri.
Sebelumnya, pada akhir Juli, para dokter di sana menemukan adanya lonjakan jumlah kasus gagal ginjal akut pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Mereka mencurigai adanya hubungan dengan obat-obatan.
Direktur pelayanan kesehatan Gambia mengatakan bahwa sejumlah anak mulai sakit dengan masalah ginjal dalam waktu tiga sampai lima hari setelah mengkonsumsi sirup parasetamol yang dijual secara lokal.
Pasien mengalami demam, ketidakmampuan untuk buang air kecil, dan muntah, diikuti oleh gagal ginjal.
Kementerian Kesehatan Gambia mengonfirmasi, sebanyak 28 kasus gagal ginjal akut pada awal Agustus, dengan tingkat kematian 90 persen.
Dari hasil analisis laboratorium Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dari sampel produk obat dengan sediaan sirup telah dikonfirmasi mengandung dua kontaminan dietilen glikol dan etilen glikol dalam jumlah yang melebihi batas.
Di Indonesia, sejak penghujung Agustus 2022, Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menerima laporan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal atau acute kidney injury (AKI) yang meningkat tajam pada anak, terutama pada usia di bawah 5 tahun. Sebanyak 206 kasus gangguan ginjal akut pada anak dilaporkan per 18 Oktober 2022 dengan angka kematian sebanyak 99 anak.
Meskipun belum mendapatkan kesimpulan yang pasti, Kementerian Kesehatan mulai berpikir apakah gangguan tersebut berasal dari sumber yang sama seperti kasus di Gambia.
Gejala gagal ginjal akut
Gagal ginjal akut menjadi penyebab kematian nomor satu dalam kasus keracunan. Hal ini dimulai antara 8-24 jam setelah terpapar dosis zat yang mematikan. Jika orang tidak mendapatkan pengobatan, gejalanya berkembang menjadi kegagalan fungsi multi-organ dalam 2-7 hari.
Gejala awal yang paling mudah diketahui adalah dari produksi urine. Gagal ginjal akut menyebabkan penurunan produksi urine anak.
Jumlah produksi urine yang normal pada anak adalah sebagai berikut:
Bayi baru lahir : 2-3 ml/kgBB/jam
Bayi (1 bulan – 1 tahun) : 2 ml/kgBB/jam
Anak (1 – 12 tahun) : 1-2 ml/kgBB/jam
Remaja (>12 tahun) : 0,5-1 ml/kgBB/jam
Untuk anak yang masih menggunakan popok, menghitung volume urine dapat dilakukan dengan cara menimbang popok kotor kemudian dikurangi berat popok bersih. Hasilnya merupakan jumlah volume urine sejak popok dipakai hingga dilepas.
Contoh:
Anak usia 6 bulan dengan berat badan 9 kg, menggunakan popok dari jam 06.00 – 10.00 (4 jam). Saat ditimbang, berat popok kotor sebesar 87 gram dan berat popok bersih 15 gram, maka volume urine selama 4 jam sebesar 72 ml, atau dalam hal ini tergolong normal.
Konsultasikan pada dokter Anda apabila anak mengalami gejala penurunan produksi urine. Segera bawa anak ke rumah sakit atau instalasi gawat darurat untuk mendapatkan penanganan dan pemeriksaan lebih lanjut.
Orang tua tidak perlu panik, namun harus tetap memperhatikan kesehatan anak. Penuhi kebutuhan cairan pada anak-anak serta awasi produksi urinenya.
__________________
Referensi :
Kompas.com (22 oktober 2022), Diduga Jadi Penyebab Gagal Ginjal Akut Anak, Kenapa Etilen Glikol dan Dietilen Glikol Ada dalam Obat Sirup?
The Jakarta Post (Diakses pada 2022), Indonesia Bans Cough Syrup Material Linked to Gambia Child Deaths.
Washington Post (Diakses pada 2022), Gambia Urgently Recalls Syrups Blamed for 66 Child Deaths.
Caravati EM, Erdman AR, Christianson G, et al. Clinical Toxicology, 43 : 327-345 (2005), Ethylene glycol exposure: an evidence based consensus guideline for out-of-hospital management.
Jollier HA, Dart RC, Bogdan GM, et al., Clinical Toxicology 38 (5) : 539-540 (2000), Can the diagnosis of ethylene glycol (EG) toxicity be made without serum EG levels and osmolality values.
Ashurst JV, Nappe TM. StatPearls Publishing (2022), Methanol Toxicity. Center for Disease Control and Prevention (Diakses pada 2022), Ethylene Glycol: Systemic Agent.
Journal of Clinical Toxicology Philadelphia (Diakses pada 2022), Diethylene Glycol Poisoning.
National Public Radio (Diakses pada 2022), Contaminated Cough Syrup from India Linked to 70 Child Deaths, It’s Happened Before.

