Memberikan Air Susu Ibu Ekslusif kepada sang buah hati adalah impian seorang ibu di seluruh dunia. Sebab ASI merupakan asupan yang dapat memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi hingga usia enam bulan. Namun perjalanan menyusui terkadang tak semulus yang dibayangkan karena ibu bisa saja menghadapi kondisi ASI yang tidak keluar. Hal ini pun tak jarang membuat para ibu sedih, gundah gulana, hingga stress.
Setelah melahirkan hingga beberapa hari setelahnya, jumlah ASI yang diproduksi payudara memang sangat sedikit. Namun pada fase ini justru Air Susu Ibu mengandung kolostrum yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Hal inilah yang menyebabkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sangat dirasankan sesaat setelah bayi dilahirkan.
Namun pada kondisi tertentu, Air Susu Ibu bisa saja tidak keluar setelah IMD. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena merupakan kondisi yang lumrah dan bukan berarti ibu mengalami masalah tertentu. Biasanya ASI akan keluar lagi dalam jumlah yang lebih banyak dua atau tiga hari kemudian, meski kandungan kolostrum sudah menurun.
Produksi Air Susu Ibu yang sedikit pasca persalinan disebabkan oleh menurunnya hormone progesterone pada ibu. Saat hamil, plasenta memiliki peranan penting memproduksi hormone yang berperan untuk pembuatan ASI. Namun saat persalinan plasenta akan terpisah dari rahim dan keluar dari tubuh. Akibatnya, terjadi penurunan kadar hormone progesteran secara drastis.
Meski membutuhkan waktu 32 sampai 40 jam setelah melahirkan agar tubuh kembali memproduksi ASI, bukan berarti ibu tidak dapat mengeluarkan ASI lagi. Kondisi ini pun kerap kali menjadi pemicu stress pada ibu hingga semakin membuat ASI susah keluar.
Baca Juga : Amankah Microlax untuk Bayi?
Selain perubahan hormone dan kadar stress, ada beberapa faktor lain yang dapat menjadi penyebab Air Susu Ibu tidak atau terlambat keluar, seeperti berikut ini :
-
Persalinan pertama
Pada banyak kasus, ASI tidak keluar biasanya dialami oleh ibu yang baru pertama kali melahirkan. Mereka akan membutuhkan waktu sampai lima hari hingga payudara penuh oleh ASI. Hal ini akan berbeda pada persalinan kedua dan seterusnya, dimana produksi ASI akan lebih mudah sehingga lebih cepat keluar.
-
Persalinan dengan penyulit
Proses persalinan panjang yang disertai dengan faktor penyulit, dan menyakitkan juga dapat membuat ASI tidak keluar meski sudah lebih dari tiga hari setelah melahirkan. Begitu pula dengan penggunaan obat bius dan infus dalam jangka cukup lama, dapat menurunkan produksi ASI.
-
Persalinan premature
ASI sudah diproduksi dalam tubuh ibu sejak kehamilan akhir trimester kedua. Namun pada kondisi persalinan yang secara tiba-tiba dan lebih cepat, dapat menghambat produksi Air Susu Ibu. Hal ini semakin diperkuat oleh kondisi bayi premature yang memiliki ketidakmampuan untuk menyusu.
-
Bayi mengalami bingung puting
Air Susu Ibu akan terus diproduksi jika terus dikeluarkan langsung ke mulut bayi. Namun pada kondisi tertentu bayi bisa mengalami kesulitan menemukan puting ibu, atau dikenal sebagai bingung putih. Jika bayi kesulitan menyusu akibat sulit menemukan putting ibu, maka tidak ada stimulasi dari mulut bayi di payudara ibu. Akibatnya, produksi ASI tidak akan terjadi.
-
Kadar gula darah tinggi
Ibu yang memiliki kadar gula darah tinggi atau diabetes membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memproduksi Air Susu Ibu. Hal ini dikarenakan oleh berbagai alasan mulai dari gangguan hormone, hingga tingginya angka premature, serta operasi Caesar pada ibu dengan riwayat diabetes.
-
Kelainan hormone
Air Susu Ibu yang tidak keluar juga dapat disebabkan oleh kelainan hormone seperti hipotiroidisme dan Polycyctic Ovary Syndrome (PCOS). Selain itu rendahnya hormone prolaktin juga dapat menyebabkan ASI tidak keluar usia melahirkan. Pada wanita, hormone prolactin berfungsi untuk merangsang produksi ASI dan pertumbuhan payudara. Kada hormone ini akan meningkat selama masa kehamilan hingga menyusui sehingga ASI terus bertambah.
Baca Juga : 10 Cara Memperbanyak ASI Untuk Perkembangan Bayi
-
Kelebihan berat badan
Selama masa kehamilan, tubuh ibu akan mengalami kenaikkan berat badan yang cukup signifikan dibanding keadaan sebelum hamil. Hal ini pun dapat menjadi salah satu penyebab ASI tidak keluar usai masa persalinan.
Selain faktor penyebab Air Susu Ibu tidak keluar seperti di atas, ASI tidak keluar juga dapat disebabkan oleh beberapa hal lain seperti terlalu lelah pasca melahirkan, kebiasaan buruk merokok atau mengonsumsi alkohol, paparan zat kimia, perdarahan setelah melahirkan, efek samping obat-obatan termasuk obat herbal, cara menyusui yang belum benar, atau mengidap kondisi medis tertentu seperti gangguan tirois, anemia, atau retensi plasenta.
Meski masa ASI tidak atau sulit keluar pasca melahirkan, ibu sebaikya tidak langsung putus asak arena ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memancing proses produksi ASI pada tubuh, seperti :
-
Memompa Air Susu Ibu
Memompa Air Susu Ibu langsung dari payudara dapat menstimulasi produksi ASI. Gerakan memerah ASi akan merangsang produksi ASI sehingga mempercepat dan melancarkan produksi ASI dalam tubuh ibu.
-
Memijat payudara
Sama halnya dengan memompa ASI, memijat payudara juga dapat merangsang produksi Air Susu Ibu. Lakukan pijat payudara dengan gerakan memutar ke arah bawah dengan sedikit tekanan. Hal ini terbukti efektif dapat membantu Air Susu Ibu keluar lebih cepat.
-
Meningkatkan frekuensi kontak dengan bayi
Melakukan kontak langsung dari kulit ibu ke kulit anak dapat memberikan berbagai manfaat yang salah satunya menstimulasi produksi Air Susu Ibu. Selain itu hubungan ibu dan bayi akan lebih erat karena satu sama lain telah memiliki keterikatan batin yang kuat.
-
Tidak mengonsumsi sembarang obat tanpa resep dokter
Jika Air Susu Ibu tidak keluar maka jangan memutuskan untuk segera mengonsumsi obat. Sebaiknya ibu tidak mengonsumsi obat-obatan tanpa resep dokter, karena beberapa jenis obat justru dapat menghambat proses produksi Air Susu Ibu,
Baca Juga : Catat! Ini 10 Tanda Kehamilan Bayi Laki-laki
-
Konsultasi dengan dokter
Saat Air Susu Ibu masih tidak keluar setelah beberapa waktu maka ibu bisa melakukan konsultasi dengan dokter atau konselor laktasi. Hal ini bertujuan untuk mencari tahu sebab yang pasti, dan mendapatkan solusi yang disesuaikan dengan penyebab ASI tidak keluar.
ASI yang lancar juga bisa didapatkan dengan cara tidak memberikan minuman lain kepada bayi saat masa ASI ekslufis, tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi, mencoba mengenalkan bayi ke puting ibu setiap dua jam, serta mempelajari tekni menyusui bayi dengan benar, yakni dengan memposisikan bayi dengan tepat dengan hidung enghadap ke putting agar bayi dapat mengosongkan payudara ibu denga optimal.
Ibu juga bisa melakukan telekonsultasi melalui website atau aplikasi farmamedisk yang dapat menghubungkan pasien dengan mitra atau rekanan penyedia jasa layanan kesehatan, yang sudah terlisensi medis di masing-masing bidang. Oke Klinik dapat diakses kapan dan dimana saja dengan mudah hanya dalam genggaman, karena farmamedisk; Its’s Oke, farmamedisk Is Here.

