Osteoporosis sering kali menyerang kaum wanita berusia di atas 40 tahun dan mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan osteoporosis. Selain itu, osteoporosis bisa juga bisa menyerang kelompok orang yang memiliki faktor resiko tertentu. Penyebab osteoporosis dan cara pencegahannya dapat disimak di artikel ini.
Osteoporosis terjadi ketika kepadatan tulang mengalami penurunan, seiring usia. Yakni menurunnya atau berkurangnya kemampuan tubuh untuk melakukan regenerasi tulang atau proses penggantian sel-sel tulang yang lama dan rapuh menjadi sel-sel yang baru.
Secara medis, osteoporosis merupakan penyakit metabolik tulang yang ditandai dengan penurunan densitas massa tulang atau penurunan kepadatan tulang dan kemunduran mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh, keropos dan mudah patah. Kondisi ini diakibatkan oleh pembentukan massa puncak tulang yang kurang baik selama pertumbuhan dan terjadi pengurangan massa tulang yang lebih cepat setelah menopause pada wanita setelah memasuki usia lanjut
Akibat dari osteoporosis adalah tulang menjadi lemah dan rentan akan fraktur atau patah tulang. Osteoporosis paling sering menyebabkan fraktur di panggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.
Penyebab osteoporosis
Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis. Sebagian faktor risiko ini tidak bisa dicegah atau tidak bisa dikendalikan. Dan sebagian lagi, bisa dicegah atau bisa dimodifikasi.
Faktor risiko yang tidak bisa dicegah adalah faktor usia. Pertambahan usia terutama jika sudah berusia lebih dari 40 tahun akan semakin meningkat risiko osteoporosis.
Selain itu, faktor resiko penyebab osteoporosis yang lainnya yang tidak dapat dicegah atau dikendalikan adalah jenis kelamin. Diketahui bahwa pada umumnya wanita lebih berisiko terkena osteoporosis ketimbang pria. Khususnya bagi wanita yang sudah mengalami menopause.
Selanjutnya, faktor keturunan juga merupakan faktor penyebab osteoporosis yang tidak dapat dicegah atau tidak dapat dimodifikasi. Jika anggota keluarga mengalami osteoporosis maka anggota keluarga yang lain akan memiliki faktor resiko yang tinggi untuk mengalami mengalami osteoporosis.
Di samping itu, ukuran tubuh yang kecil dan kurus pada perempuan juga dapat menjadi faktor penyebab osteoporosis yang tidak dapat dimodifikasi. Demikian pula dengan perempuan ber etnis Kaukasia dan Asia. Mereka memiliki risiko paling tinggi dibanding perempuan Hispanik dan kulit hitam dalam hal terserang osteoporosis.
Faktor risiko penyebab osteoporosis yang dapat dimodifikasi
Adapun faktor risiko penyebab osteoporosis yang bisa dicegah atau bisa dimodifikasi adalah meliputi :
-
Penurunan kadar hormon estrogen atau testosterone
Penurunan kadar estrogen berkaitan dengan siklus menstruasi yang tidak teratur ataupun menopause pada perempuan. Sedangkan pada laki-laki, kadar testosteron yang rendah dapat menyebabkan osteoporosis. Hal tersebut bisa dimodifikasi atau dicegah dengan melakukan perubahan pola makan dan juga terapi hormonal.
-
Gangguan hormonal
Gangguan hormonal merupakan akibat dari adanya sindrom Cushing, hiperparatiroidisme, atau gangguan kelenjar pituitari (hipofisis).
-
Gangguan makan
Gangguan berupa anorexia nervosa atau gangguan makan yang ditandai dengan berat badan yang sangat rendah, rasa takut yang berlebihan pada kenaikan berat badan, dan persepsi yang salah terhadap berat badan. Anoreksia nervosa termasuk gangguan mental yang serius dan tidak boleh didiamkan.
-
Kekurangan asupan vitamin D dan kalsium
Vitamin D dan kalsium sangat dibutuhkan dalam proses regenerasi sel-sel tulang. Jika tubuh kekurangan vitamin D dan kalsium maka dapat menyebabkan terjadinya osteoporosis.
-
Gangguan pencernaan
Gangguan di dalam sistem pencernaan misalnya adalah seperti malabsorbsi, penyakit celiac, atau penyakit Chron yang menyebabkan penyerapan vitamin D dan kalsium terganggu.
-
Penggunaan obat-obatan tertentu
Obat-obatan tertentu dapat menjadi faktor penyebab osteoporosis. Misalnya obat kortikosteroid yang dipakai dalam jangka panjang.
-
Penyakit tertentu
Penyakit yang dapat menjadi faktor penyebab osteoporosis adalah cystic fibrosis, hemofilia, hemokromatosis, leukemia, hipogonadisme, atau penyakit Parkinson.
-
Gaya hidup tertentu
Selain itu, faktor gaya hidup tertentu juga dapat meningkatkan faktor resiko penyebab terjadinya osteoporosis. Misalnya gaya hidup yang kurang bergerak atau tidak aktif, kebiasaan merokok, minum kopi, dan kecanduan alkohol.
Para ahli berpendapat bahwa merokok menyebabkan risiko osteoporosis lebih besar dikarenakan karena pengaruh toksik terhadap osteoblas, gangguan keseimbangan remodeling tulang. Wanita perokok juga dapat mengalami menopause dini, cenderung kurus sehingga kehilangan massa tulang. Zat-zat yang terkandung dalam rokok seperti nikotin dapat menghambat produksi sel pembentukan tulang.
Konsumsi kafein atau minum yang mengandung kafein secara berlebihan terbukti meningkatkan pengeluaran kalsium. Konsumsi kalsium rendah ini disertai dengan menurunnya kemampuan tubuh menyerap kalsium, terutama lansia, dan dapat menyebabkan osteoporosis.
Gejala Osteoporosis
Osteoporosis dikenal sebagai penyakit sunyi atau silent disease. Penderita tidak merasakan gejala apapun sampai kemudian terjadi kecelakaan seperti terpeleset atau jatuh yang menyebabkan patah tulang.
Penanganan dan pencegahan osteoporosis
Kondisi osteoporosis dapat ditangani dan dicegah dengan melakukan tindakan berupa diet seimbang dengan meningkatkan asumsi kalsium dan vitamin D, terapi atau latihan, gaya hidup sehat, dan obat-obatan. Obat-obatan meliputi terapi untuk mengganti estrogen, modulator reseptor estrogen selektif, kalsitonin, dan bifosfonat.
Diet sehat untuk mencegah osteoporosis dilakukan dengan mencukupi asupan kalsium dan vitamin D untuk memperkuat tulang penderita. Sumber kalsium yang baik adalah susu rendah lemak, yoghurt, keju, jus jeruk, sereal, dan roti. Sementara untuk mencukupi kebutuhan vitamin D, sebagian penderita osteoporosis mungkin perlu minum pil vitamin D.
Adapun kebutuhan harian kalsium dan vitamin D akan berbeda-beda bagi setiap kalangan usia dan jenis kelamin. Sebagai contoh, laki-laki usia 51-70 tahun membutuhkan kalsium sebanyak 1.000 mg / hari dan vitamin D sebanyak 600 IU / hari. Sementara bagi perempuan pada usia tersebut, kalsium yang dibutuhkan lebih banyak lagi, yaitu 1.200 mg / hari dan vitamin D 600 IU / hari.
Olahraga
Rutin berolahraga juga dapat mencegah terjadinya osteoporosis. Namun dalam hal ini, kamu harus memilih jenis olahraga yang tepat. Jenis-jenis olahraga yang tepat untuk bisa mencegah osteoporosis adalah berjalan, mendaki, jogging, naik tangga, angkat beban, tenis, dan dansa.
Gaya Hidup
Sementara itu, yang berkaitan dengan gaya hidup dalam pencegahan osteoporosis adalah mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol.
Diagnosis osteoporosis
Diagnosis terhadap kondisi osteoporosis pada pasien yang dilakukan oleh dokter, diawali dengan wawancara mengenai riwayat medis lengkap. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik, rontgen tulang, densitometri tulang, dan tes laboratorium khusus.
Jika dokter mendiagnosis massa tulang yang rendah, kemungkinan perlu dilakukan tes tambahan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang dapat menyebabkan keropos tulang, termasuk osteomalasia atau penyakit tulang metabolik yang ditandai oleh mineralisasi tulang yang abnormal, atau hiperparatiroidisme (aktivitas berlebihan kelenjar paratiroid).
Densitometri tulang umumnya dilakukan pada wanita yang sudah memasuki usia menopause. Jenis densitometri tulang yang digunakan untuk mendeteksi keropos tulang di berbagai area tubuh, misalnya adalah dual-energy x-ray absorptiometry (DEXA).
Sejauh ini, DEXA adalah salah satu metode yang paling akurat. Teknik lainnya yang digunakan oleh dokter untuk mendiagnosis osteoporosis adalah photon absorptiometry tunggal (SPA), computed tomography kuantitatif (QCT), absorptiometry radiografi, dan USG.

