Foto : Freepik
Kehamilan biasanya menjadi berita yang menyenangkan bagi calon orang tua. Pada kasus pseudocyesis, seorang wanita meyakini dirinya hamil, padahal tidak. Tentunya ini menyedihkan. Faktor psikologis berkontribusi dalam kondisi ini. Bagaimana cara membantu mereka?
Penulis : Sholahudin Achmad
Tak semua kehamilan berakhir dengan bayi yang diharapkan. Dalam beberapa kasus yang sangat jarang terjadi, seorang wanita meyakini dirinya sedang mengandung bayi. Tapi, sebetulnya tidak. Hal ini bisa menimbulkan masalah psikologis.
Bahkan, di kalangan masyarakat tradisional ada mitos mengenai bayi yang hilang dalam kandungan. Mitos seputar kehamilan ini, perlu diluruskan.
Apa itu pseudocyesis?
Keyakinan bahwa Anda sedang mengandung bayi, padahal sesungguhnya tidak, secara klinis disebut pseudocyesis atau kehamilan palsu. Penderita pseudocyesis biasanya mengalami gejala kehamilan. Bahkan, beberapa pria mengalami fenomena terkait yang dikenal dengan couvade atau kehamilan simpatik. Mereka akan mengalami banyak gejala yang sama dengan pasangan hamil mereka, termasuk penambahan berat badan, mual, dan sakit punggung.
Namun, melalui tes kehamilan dan ultrasound dapat dipastikan bahwa penderita pseudocyesis itu tidak hamil secara fisik dan tidak ada janin yang tumbuh di dalam rahim mereka.
Seberapa umum pseudocyesis ?
Psudocyesis adalah kondisi langka, jarang terjadi. Faktor psikologis dan hormonal dipercaya berperan dalam menyebabkan pseudocyesis.
Melansir Cleveland Clinic, terdapat 1 sampai 6 kasus pseudocyesis dari 2.000 kelahiran di Amerika Serikat. Sebagian besar kasus ini telah ditemukan pada pasien berusia antara 16 dan 39 tahun. Kehamilan palsu lebih umum terjadi sebelum tes kehamilan yang tepat.
Perbedaan mendasar antara kehamilan palsu dan kehamilan sebenarnya adalah adanya janin. Seseorang dengan pseudocyesis mungkin merasa hamil dan memiliki tanda-tanda kehamilan. Tetapi saat dilakukan tes kehamilan, tes darah, atau USG akan ditunjukkan bahwa mereka tidak hamil.
Gejala pseudocyesis
Gejala pseudocyesis mirip dengan kehamilan sebenarnya. Hal ini dikarenakan seseorang memiliki keyakinan bahwa dirinya sedang hamil atau memiliki kondisi yang menyebabkan gejala kehamilan.
Beberapa orang, misalnya, mengaku merasakan gerakan di dalam rahim mereka. Selain itu, gejala umum kehamilan palsu adalah:
-
Payudara menjadi lembek
-
Perut membesar
-
Telat menstruasi
-
Berat badan bertambah
-
Mual atau morning sickness
-
Mengidam makanan
-
Kontraksi persalinan palsu
Penyebab pseudocyesis
Pakar medis tidak sepenuhnya yakin apa yang menyebabkan pseudocyesis. Baru belakangan ini, mereka berpikir bahwa faktor psikologis dan hormonal dapat berkontribusi dengan hal ini.
Pseudocyesis dapat dianggap sebagai gangguan gejala somatik atau ketika seseorang memiliki gejala fisik suatu kondisi tanpa adanya penjelasan medis.
Beberapa alasan seseorang dapat mengembangkan pseudocyesis adalah:
-
Keinginan kuat untuk hamil
-
Pernah mengalami keguguran
-
Kehilangan seorang anak
-
Infertilitas
-
Ketakutan ekstrim untuk hamil
-
Depresi atau kecemasan
-
Trauma emosional
-
Pelecehan seksual
Ketika seorang wanita merasakan keinginan yang kuat untuk hamil, yang mungkin karena infertilitas, keguguran berulang, menopause yang akan datang, atau keinginan untuk menikah, tubuh mereka dapat menghasilkan beberapa tanda kehamilan (seperti perut bengkak, payudara membesar, dan bahkan sensasi gerakan janin). Otak wanita kemudian salah mengartikan sinyal tersebut sebagai kehamilan, dan memicu pelepasan hormon (seperti estrogen dan prolaktin) yang mengarah pada gejala kehamilan yang sebenarnya.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa kemiskinan, kurangnya pendidikan, pelecehan seksual pada masa kanak-kanak, atau masalah hubungan mungkin berperan dalam memicu kehamilan palsu. Mengalami kehamilan palsu tidak sama dengan mengaku hamil untuk mendapatkan keuntungan (misalnya untuk mendapatkan keuntungan finansial), atau mengalami delusi kehamilan (seperti pada pasien skizofrenia).
Faktor psikologis
Koneksi pikiran-tubuh bisa sangat kuat. Beberapa penyedia layanan kesehatan percaya bahwa keinginan untuk hamil adalah penyebab paling umum dari pseudocyesis. Orang mungkin memiliki keinginan yang kuat untuk hamil sehingga tubuh mereka membantu mereka percaya bahwa mereka hamil. Kondisi lain seperti depresi akibat kemandulan atau keguguran bisa menjadi faktor risiko kehamilan palsu.
Faktor hormonal
Kondisi medis seperti tumor rahim, menopause, atau kanker dapat menyebabkan perubahan kadar hormon seseorang. Perubahan hormonal ini dapat meniru gejala kehamilan seperti terlambat haid, kelelahan, atau penambahan berat badan.
Mungkin, penyedia layanan kesehatan ingin mengesampingkan kondisi medis ini sebelum melakukan diagnosis pseudocyesis. Keinginan kuat untuk hamil dapat memengaruhi hormon secara langsung dan menyebabkan gejala kehamilan.
Diagnosis pseudocyesis
Pada umumnya, untuk memeriksa kehamilan, dokter akan melakukan :
-
pemeriksaan panggul
-
USG
-
tes urine
-
tes darah
Jika kehamilan palsu telah terjadi, tes ini akan kembali negatif dan memastikan bahwa pembuahan tidak terjadi dan orang tersebut tidak hamil.
Penderita pseudocyesis kemungkinan akan marah, kecewa dan tidak percaya bahwa tidak ada janin di dalam rahimnya. Ultrasonografi mungkin merupakan pilihan terbaik untuk meyakinkan seseorang dengan pseudocyesis bahwa mereka tidak hamil karena ini adalah tes diagnostik paling visual untuk kehamilan.
Beberapa kondisi kesehatan memiliki gejala yang sama dengan kehamilan. Misalnya, bentuk kanker yang langka. Kondisi tersebut dapat mengeluarkan hormon kehamilan. Dokter ahli kandungan dapat melakukan tes tambahan, untuk mengesampingkan kondisi kesehatan yang mungkin menjadi penyebab gejala kehamilan.
Bagaimana Anda membantu seseorang yang mengalami pseudocyesis?
Kenyataan pahit yang dialami oleh penderita pseudocyesis membutuhkan sistem pendukung yang welas asih. Berbicara dari hati ke hati yang menyentuh perasaannya akan bermanfaat bagi mereka. Sadarilah bahwa mereka tengah berduka atas kehilangan kehamilan dan menghadapi emosi yang tak terbendung, seperti kemarahan, kesedihan, kesedihan atau trauma. Berada di samping mereka, sebagai teman atau pasangan, yang menunjukkan kepedulian akan sangat membantu penyembuhan mereka.
Apakah pseudocyesis adalah delusi?
Tidak, pseudocyesis bukanlah khayalan atau delusi. Orang yang didiagnosis dengan khayalan kehamilan tidak memiliki gejala kehamilan, tetapi percaya bahwa mereka hamil. Orang dengan pseudocyesis memiliki gejala kehamilan yang nyata. Penyedia layanan kesehatan memperlakukan kondisi ini secara berbeda.
Pengobatan untuk pseudocyesis
Langkah pertama dalam perawatan pseudocyesis adalah dengan menunjukkan secara meyakinkan bahwa pasien tidak hamil. Ultrasound atau alat pencitraan lainnya akan sangat membantu untuk menunjukkan keyakinan tersebut kepada pasien.
Dokter kandungan juga perlu menangani kondisi medis yang menyebabkan gejala kehamilan. Misalnya, menggunakan terapi hormon untuk membantu seseorang agar periode menstruasinya kembali normal.
Pseudocyesis biasanya diperlakukan sebagai kondisi psikologis. Mengobati pseudocyesis melibatkan dukungan emosional, terapi perilaku, dan bantuan dari terapis atau konselor. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kehamilan palsu dan mengatasi faktor-faktor tersebut sangat penting dalam penyembuhan.
Saat seorang percaya bahwa mereka hamil, terutama untuk jangka waktu beberapa bulan, akan sangat mengecewakan bagi mereka untuk mengetahui bahwa mereka sesungguhnya tidak hamil. Dokter perlu menyampaikan berita ini dengan lembut, dan memberikan dukungan psikologis, termasuk terapi, untuk membantu pasien dengan pseudocyesis pulih dari kekecewaan mereka.
___________________________
Referensi :
Cleveland Clinic (2022), Pseudocyesis
American Pregnancy Association (diakses pada 2023), What Is a False Pregnancy?
Yadav T, Balhara YP, Kataria DK. Indian J Psychol Med (2012;34(1):82-84),
Pseudocyesis Versus Delusion of Pregnancy: Differential Diagnoses to be Kept in Mind. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3361851/
Watson, Stephanie, Web MD (2022), False Pregnancy (Pseudocyesis)
Ibekwe, P.C. (2008), Indian Journal of Psychiatry.
Basil, B (2006), Psychosomatics.
Shutty, M.S (1993), Psychosomatic Medicine.

