Setelah kedapatan mengidap HIV seseorang ada yang bisa hidup lebih lama, tetapi ada pula yang dengan cepat merenggut nyawanya. Ada empat tahapan HIV menjadi AIDS yang perlu diwaspadai agar seseorang bisa melakukan pengobatan yang tepat dan bisa menyelamatkan dirinya serta orang lain.
Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus HIV dapat masuk ke dalam sel darah putih dan merusaknya, sehingga jumlah sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap infeksi akan menurun.
Sebagai akibat dari kondisi tersebut, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan penderitanya mudah terkena berbagai penyakit. Kondisi inilah yang disebut sebagai Acquired Immunodeficiency Syndrom (AIDS). Jadi, AIDS adalah kumpulan penyakit (sindrom) yang muncul akibat penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV.
Saat ini tidak ada obat yang efektif. Begitu orang terkena HIV, mereka memilikinya seumur hidup. Tetapi dengan perawatan medis yang tepat, HIV dapat dikendalikan. Orang dengan HIV yang mendapatkan pengobatan HIV yang efektif dapat berumur panjang, menjalani hidup sehat dan melindungi pasangannya.
HIV adalah virusnya dan AIDS adalah sindrom yang diakibatkan. Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan pasti apakah seseorang mengidap HIV adalah dengan melakukan tes. Mempelajari dasar-dasar tentang HIV dapat membuat seseorang tetap sehat dan mencegah penularan HIV . Ada empat tahapan virus HIV berkembang menjadi AIDS:
1. Periode Jendela
Pada tahap ini, seseorang pertama kali terinfeksi virus HIV yang masuk ke dalam tubuh dan mulai berkembang. Jika seseorang melakukan tes, virus belum tentu bisa terdeteksi dengan pemeriksaan antibodi darah.
Antibodi yang terinfeksi HIV belum tentu terlacak melalui pemeriksaan laboratorium karena kadarnya belum memadai. Deteksi HIV biasanya baru bisa dilakukan dalam 3-6 minggu hingga 12 minggu setelah infeksi pertama kali.
2. Periode Infeksi Laten
Pada tahap kedua ini, virus sudah bisa terdeteksi jika melakukan tes HIV dengan tes darah. Namun, di tahap ini belum ada gejala yang mengindikasikan HIV dan masih bisa beraktivitas seperti biasanya, tergantung juga pada daya tahan tubuh.
Baca Juga: Kenali Tiga Fase Gejala HIV AIDS
Kendati tanda-tandanya belum jelas, bukan berarti virus tidak menyerang tubuhnya, namun metabolismenya sedang bertarung melawan virus. CD4, salah satu tipe sel darah putih mati perlahan-lahan, sebelum menurun drastis ke tahapan ketiga.
Awalnya mungkin belum tampak gejala sama sekali, ataupun jika sudah ada, biasanya telat diketahui sebagai infeksi HIV, karena gejalanya tampak seperti flu biasa. Namun, tanda-tanda yang umum seperti sakit kepala, sakit tenggorokan, mudah lelah, demam, pegal-pegal, dan ruam sudah mulai tampak.
Menurut Centers for Disease Control and Protection (CDC) di Amerika Serikat, gejala-gejala HIV biasanya muncul dua hingga empat minggu sejak pertama kali ditransmisikan. Gejala-gejala ini bertahan hingga beberapa minggu.
Kendati belum menunjukkan gejala parah, atau tidak ada gejala sama sekali, orang dengan HIV bisa menularkan virus ini ke orang lain. Penularannya bisa melalui hubungan seksual, atau menggunakan transfusi darah yang sudah tercemar HIV, atau jarum suntik bekas. Jika dites dan diketahui membawa virus HIV, orang yang sudah terinfeksi ini disebut dengan ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS).
3. Muncul Gejala Akut atau Tahap HIV Kronik
Selepas infeksi laten, yang berlanjut ke infeksi akut, fase berikutnya menunjukkan gejala-gejala yang jelas. Tahap ini dikenal dengan HIV kronik. Pada akhir fase ini, jumlah HIV dalam darah (disebut viral load ) naik dan jumlah CD4 turun.Sel CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh kita.
Demam berkepanjangan, penurunan berat badan, diare terus menerus tanpa sebab yang jelas, batuk, dan sesak nafas lebih dari satu bulan terus menerus, kulit gatal-gatal dan muncul bercak merah kebiruan adalah gejala-gejala yang muncul pada tahap ini. Gejala-gejala tersebut menunjukkan sudah ada kerusakan pada sistem kekebalan tubuh.
4. AIDS
Ketika virus HIV sudah melemahkan kekebalan tubuh secara umum, kondisi ini dikenal dengan AIDS. Tingkat CD4 atau salah satu sel darah putih, menurun sekitar 200 sel per kubik. Akibatnya, tubuh sangat rentan terkena paparan penyakit.
Secara umum, gejala-gejalanya adalah demam tinggi, berkeringat dingin di malam hari, bercak-bercak putih di dalam mulut, nyeri pada alat genital dan lubang anus, masalah ingatan, dan pneumonia.
Tahap ini merupakan tahap akhir dimana kekebalan tubuh sudah sangat menurun, sehingga tubuh amat mudah terserang pelbagai macam penyakit, seperti radang paru-paru (TBC/Tuberculosis), radang karena jamur di mulut dan kerongkongan, gangguan saraf (toxoplasmosis), infeksi usus, dan infeksi lainnya.
Demikianlah empat tahapan HIV menjadi AIDS.
Baca Juga: Waspadai 6 Cara Penularan HIV AID, Terutama Bagi Ibu Hamil
Mengendalikan Viral Load
HIV, yang selama ini menanggung stigma, jika menginfeksi individu, tidak berarti menjadikan seseorang tak memiliki harapan hidup, namun HIV sebenarnya merupakan virus yang bisa dikendalikan atau treatable, dan orang dengan HIV, bahkan AIDS, bisa hidup dan berfungsi normal seperti orang pada normalnya, jika tahu penanganan yang tepat.
HIV juga tidak akan menular melalui jabat tangan, rangkulan, berpelukan, digigit nyamuk atau serangga, bersentuhan, berenang bersama, tinggal serumah dengan ODHA, menggunakan toilet yang sama, hingga memakai alat makan dan minum yang sama.
Setelah mengetahui mengidap HIV, seseorang memerlukan terapi secepatnya agar tidak memperparah kondisinya dan tidak menulari orang lain. Terapi HIV melibatkan minum obat yang mengurangi jumlah virus HIV dalam tubuh.
Pengobatan HIV disebut terapi antiretroviral (ART). Menurut CDC, tidak ada obat yang efektif untuk HIV tetapi dengan perawatan medis yang tepat, seseorang dapat mengendalikan HIV.
Kebanyakan orang bisa mengendalikan virus dalam waktu enam bulan. Namun, minum obat HIV tidak mencegah penularan penyakit menular seksual lainnya. Obat HIV direkomendasikan untuk semua orang dengan HIV, terlepas dari berapa lama mereka terkena virus atau seberapa sehat mereka.
Jumlah Virus HIV dalam darah atau viral load bisa dikendalikan. Minum obat HIV sesuai resep akan membantu menjaga viral load tetap rendah dan jumlah CD4 atau bagian dari sel darah putih tetap tinggi. Obat HIV bahkan dapat membuat viral load sangat rendah, disebut penekanan virus. Penekanan virus artinya seseorang memiliki kurang dari 200 salinan virus HIV per mililiter darah.
Pengobatan HIV yang tepat dapat membuat viral load sangat rendah sehingga tes tidak dapat mendeteksinya. Jika viral load seseorang turun setelah memulai pengobatan HIV, itu berarti pengobatan berhasil. Mengkonsumsi obat yang sudah diresepkan sejak awal oleh dokter, tidak sembarang didapat, bisa dilanjutkan.
Baca Juga: 4 Fakta Terapi Anti Retroviral Pengobatan HIV AIDS
Jika seseorang melewatkan pengobatan, bahkan mungkin hanya sesekali, ia akan memberi kesempatan virus HIV berkembang biak dengan cepat. Pengidap HIV akan lebih cepat memasuki tiap tahapan menjadi AIDS karena jumlah virus dalam darah makin banyak. Cara terbaik adalah menjaga diri melalui pengobatan medis yang lengkap dan terus menerus sehingga melindungi diri sendiri dan orang lain

